Bergen, Kota di Antara Tujuh Gunung

Patung Troll di Trollala

Bukan hal mudah membuat rencana perjalanan seminggu di Norwegia di akhir musim gugur. Negara ini luas, sedang penduduknya sedikit. Kota-kotanya berjauhan, dipisahkan gunung, laut, dan fjord. tempat-tempat wisata alam, rata-rata tutup di musim gugur dan dingin. Jadinya gak bisa melipir ke Trolltunga dan foto-foto di atas batu mirip lidah. Pilihannya tinggal kota-kota yang jaraknya jauh. Kami harus memperhitungkan waktu di jalan. Mana lagi, jelang musim dingin, siang semakin pendek. Kadang pas kami lewat objek wisata bagus, hari gelap. Atau kah itu masih subuh, atau sudah kesorean. Mau mampir pun sudah malas.

Akan tetapi, Emak anggap perjalanan ke sana termasuk sangat berhasil, menyenangkan, memorable. Berhasil membuat badan kami pegel-pegel. Lha perjalanan ke sana, sekali jalan aja sudah hampir 2 ribu kilometer. Belum ditambah perjalanan antar kota. Katek lah ngukur jalan. he he he. Tapi, yang dilihat pun asyik-asyik, unik, cantik.

Kami pilih Bergen sebagai tujuan kedua. Lumayan juga jarak Oslo – Bergen. Jaraknya hampir 500 km. Karena melewati jalanan pegunungan, sekali jalan ditempuh setidaknya 7 jam-an. Belum termasuk istirahat. Sekitar seharian lah kami habiskan menyetir di antara kedua kota tersebut. Berangkat pagi-pagi dari Oslo, sampai Bergen sudah malam. Banyak danau kami lewati. Serta daerah pegunungan yang suhunya sekitaran titik beku air. Kami tak melewati kota besar. hanya desa-desa atau kampung yang terdiri dari beberapa rumah. Itu pun jaraknya berjauhan satu sama lainnya.

Bergen merupakan kota kedua terbesar di Norwegia. Kalau dibanding kota besar Eropa lainnya, kota ini termasuk kecil. Apalagi kalau dibandingkan kota-kota di Indonesia. Sama Jember aja kalah jauh. Penduduknya tidak sampai 300 ribu jiwa. Konon sepuluh persen di antaranya adalah mahasiswa. Bergen merupakan salah satu Kota Hansa. Sebutan bagi kota-kota yang menjadi pusat perdagangan Liga Hansa. Sebuah komunitas pedagang dari Jerman Utara yang menguasai jalur perdagangan di Eropa Utara sekitar abad 13 – 15 masehi. Salah satu peninggalan mereka menjadi spot utama Bergen saat ini. Bergen, dikelilingi gunung-gunung. Gunungnya gak terlalu tinggi, seh. Oh ya, kota ini juga merupakan salah satu gerbang masuk, kalau kita mau berwisata di fjord-fjord dekat sana. Kami gak ada waktu untuk itu.

Hari sudah gelap ketika kami sampai penginapan. Kami menginap di hostel yang letaknya di pinggiran kota. Besoknya baru jalan-jalan. Hampir seharian kami habiskan di Bergen. Alhamdulillah meski agak dingin, cuaca hari itu cerah.

Baca juga: Penginapan Murah di Norwegia

Karena gak sampai sehari, tentunya tidak terlalu banyak tempat wisata kami datangi. Kami cuma mendatangi tempat-tempat mainstream saja. Mobil kami parkir di pinggiran pusat kota. Biar gratis. Tempatnya di punggung sebuah bukit. Lalu kami jalan kaki, turun ke arah pusat kota. Gak jauh. Paling setengah jam-an kami jalan kaki. Di pagi hari, Bergen terlihat sepi. Tujuan pertama kami sebenernya adalah pasar ikan. Katanya letaknya di dekat Bergen havn, pelabuhan di pusat kota. Tapi kok sepi-sepi ajah, seh. Kirain hari itu gak ada. Ternyata fish market-nya ada di tenda, dan kecil. Ya wes kami langsung ke tujuan wisata berikutnya.

Bryggen

Bryggen semacam kota kecil di pusat Bergen. Jalan menuju ke sana, dihiasi rumah-rumah tua berwarna cerah. Salah satunya adalah Museum Liga Hansa. Bryggen sendiri merupakan salah satu peninggalan Liga Hansa. Sejak tahun 1979, ia masuk dalam daftar warisan budaya Unesco. Gak pake lama, kami langsung menimmati isi Bryggen. Motretin deretan rumah-rumah tua berwarna cerah. Merah, kuning, oranye, cokelat. Langit biru yang cerah membuat foto kami tambah cantik.

Bangunan kuno Bryggen

Kompleks Bryggen lumayan luas. Bagian depannya terdiri dari toko-toko dan galeri. Di bagian belakang terdapat penginapan, kantor museum. Kalau melipir satu per satu, lumayan lama. Kami habiskan lebih dari satu jam di sana. Memasuki Bryggen adalah bagaikan menjelajahi abad pertengahan Bergen.

Liga Hansa membangun kantor cabang di Bergen pada tahun 1360. Mereka bertahan 400 tahun lamanya. Sebagian Bryggen dibangun dari kayu. Tahun 1702, sebagian besar terbakar habis. Namun mereka bangun kembali seperti bentuknya semula. Sisa yang bisa kita nikmati sekarang mirip kondisinya seperti pertama dibangun.

Kami pun memsuki satu per satu gang di Bryggen. Naik turun tangga kayu. Serta mengamati toko-tokonya yang terbuat dari kayu yang dicat warna menyolok.  Sebagian toko cinderamata. Kami gak masuk, cukup mengintip harga barang yang dijual dari depan jendela. Ada beberapa museum, galeri, serta rumah makan. Serem, mbayangin kalau kompleks seperti ini kebakaran.

Floibahnen

Menyadari kalau agenda kami hari itu belum kelar, kami berjalan menjauhi Bryggen. Sempat ketemu beberapa orang sebangsa setanah air di depan sebuah toko suvenir. Mereka tinggal di kota lain di Norwegia, sedang mengantarkan sejawat yang sedang berkunjung. Keluarga pelancong memanjat jalanan Bergen. Ke stasiun kereta yang bakal membawa kami ke salah satu gunung Bergen.

Menikmati panorama Bergen

Bergen, sering disebut sebagai kota di antara tujuh gunung. Setiap tahun ada acara mendaki tujuh gunung yang diselenggarakan oleh Bergen Mountain Hiking Association. Mereka mendaki Gunung Lyderhorn, Damsgårdsfjellet, Løvstakken, Ulriken, Fløyen, Rundemannen, dan Sandviksfjellet. Kami berniat naik hingga atas Floyen. Naik sebuah kereta khusus bernama Floibahnen.

Naik Floibahnen merupakan sebuah pengalaman menyenangkan. Sebaiknya tak dilewatkan oleh para pengunjung Bergen. Perjalanan enam menit dalam sebuah kereta berkaca transparan. Sambil berkereta, kita bisa menikmati panorama kota Bergen. Meski untuk sebuah perjalanan selama 6 menit, tiketnya tidak murah. Harga tiket sekali jalan untuk dewasa adalah 50 NOK (Rp. 80.000,-). Anak-anak bayar separuhnya. Kalau gak mau naik kereta, bisa hiking. Jalannya bagus. Gunung Floyen gak terlalu jangkung. Hanya 320 mdpl.

Di atas, suasananya lumayan ramai. Hari itu memang cerah. Langitnya biru. Cuaca gak terlalu dingin. Kami menikmati panorama kota Bergen. memandangi gunung-gunung lain di kejauhan. Orang-orang piknik, duduk-duduk, sambil mengobrol. Di atas terdapat restauran cukup besar dan tempat bermain anak yang luas. Toilet ada dan gratis. Si Adik suka banget ama playground-nya. Sampai gak berhenti main dan bergabung dengan anak-anak lokal.

Trollala

Children with Troll
Anak-anak bermain bersama Troll

Ketika sedang menunggu Adik main di playground Gunung Floyen, Emak ngeliat banyak orang berjalan menuju sebuah tempat tak jauh dari sana. Penasaran, Emak ajak anggota keluarga lain ke tempat tersebut. Eh, nemu sesuatu keunikan. Itu adalah Trollala atau Troll Forest. Namanya berasal dari troll, mahluk yang dipercaya ada dalam mitologi mau pun cerita rakyat Skandinavia. Sebagian dari kita mungkin sudah kenal lewat film kartun Trolls. Selama berada di Norwegia, kami melihat patung-patung serta gambar troll di berbagai tempat. Mahluk ini, kadang digambarkan jelek dan jahat. Namun ada yang menggambarkan mereka serupa manusia dan tidak jahat.

Bagi Emak, keliling Hutan Forest bikin ngeri-ngeri sedap. Di beberapa tempat, Emak merinding disko. Padahal lumayan ramai. Hutannya gak terlalu luas. Rindang, berlumut, dengan jalan setapak di dalamnya. Jalannya naik turun. Agak-agak mistis. Di sana-sini ada patung troll dalam berbagai ukuran. Yang kecil-kecil nempel atau nggantung di pepohonan. Yang gede si atas tanah atau batuan. Ada yang berambut panjang dan gimbal. Ada yang berhidung panjang besar atau bertelinga lebar atau matanya melotot.

Puas keliling Trollala, kami turun gunung. Kali ini jalan kaki saja. Biar irit. Lewat hutan dan rumah-rumah penduduk. Hari itu, seru juga di Bergen.

***

Baca juga: Menyetir di Norwegia

Baca juga: Free Things to Do in Oslo

One Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: