Desa Ekowisata Dana

Perjalanan Panjang Menuju Dana Village

Dana reserve Jordan
Pemandangan di Wadi Dana

Bercapek-capek seharian di situs arkeologi Petra, kami tak langsung bisa selonjor istirahat. Perjalanan hari itu belum selesai. Kami masih harus berkendara beberapa puluh kilometer lagi. Penginapan kami malam itu ada di desa ekowisata Dana. Di sebuah daerah lindung bernama Dana Reserve.

Seperti sebelum-sebelumnya, kami mengalami acara kesasar. Bahkan kesasar paling parah selama sejarah kami menyetir di Yordania. Kami kelewatan lebih dari 20 km dari tempat tujuan. Ini akibatnya kalau terlalu percaya pada teknologi bernama googlemaps. Sebab nyatanya memang beberapa poin di peta tersebut gak sesuai kenyataan. Alias menyesatkan. Makanya Emak sangat menghargai mereka yang mau bersusah payah membetulan letak alamat di googlemaps. Manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang.

Alamat yang kami simpan di hape, mengantarkan kami pada suatu desa antah berantah. Melewati jalan perbukitan. Deket-deket jurang. Mana sudah malam hari pula. Dan tak ada penerang sama sekali, kecuali kalau ada mobil lain lewat. Pas nanya ke warga sekitar, ibu-ibu. Katanya di sini bukan Desa Dana. Jauh, katanya.

How to get to Dana Jordan
Pemandangan Desa Dana

Keluarga Pelancong balik arah. Memilih kembali ke jalanan ramai. Kali ini pakai GPS (gaul penduduk setempat) aja. Nanya ke anak muda di sebuah toko jagal. Oh, kalian balik ajah, entar abis jalanan naik itu Dana, jelasnya dalam bahsa Inggris terbata. Udah sampai tanjakan dan turunan beberapa kali, kok gak ada tanda-tanda desa Dana, yah? Apa kelewat lagi, nih? pikir kami. Kami berhenti di masjid. Berharap ada yang bisa ditanyai. Sepi.

Kami terus, sampai ketemu sebuah toko. Bapak turun, menanyai orang di sana. Mertua pemilik toko bisa bahasa Inggris. Beliau pernah bekerja di maskapai Royal Jordanian.

“Kalian kelewatan sekitar 20-an km,” ujar si Bapak. “Balik lagi lewat jalan utama ini, sampai deket belokan ke Petra, nanti ada plang Dana Village,” petunjuknya jelas.

“Kalau kalian gak buru-buru, saya mau ajak minum-minum teh dulu.”

Dengan berat hati undangan Bapak 12 anak tersebut kami tolak. Sudah malam, dan anak-anak sudah kelelahan.

“Wah kalian keluarga kecil. Anak cuma dua. Kami di sini keluarganya besar-besar. Anak saya 12.”

Cowoknya satu, yang terakhir. Mashaa Allah. Sepertinya anak cowok tersebut hampir seumuran dengan cucunya.

“Kalian menginap di Dana Village? Tempatnya bagus banget,” kata beliau sebelum kami bertolak naik mobil.

***

Syukurlah setelah balik, kami kembali ke jalan yang benar. Ada plang segede bagong setelah melewati Dana Reserve. Dan Emak pun rasanya sudah ngeliat plang itu. Namun karena kami sangat percaya teknologi, ya begitu jadinya. Dari jalan raya kami lewat turunan tajam menuju pusat desa. Di jalan utama, ada petunjuk menuju hotel-hotel di sana. Ada setidaknya tiga hotel di sana. Termasuk hotel tumpangan kami, Dana Moon Hotel.

Yang kami inapi hotel paling murah. Kamarnya ada lima. Kamar mandi di luar. Toilet dan kamar mandi letaknya jauh di ujung ruangan. Pemiliknya lelaki 30-an berbadan besar. Bicaranya lembut. Pelan dibacanya bukti booking kami. Beliau tak punya komputer. Dicocokkannya nama kami dengan buku notes miliknya. Hotel dan hostel kecil kadang memang masih belum menggunakan komputer. Makanya perlu juga mencetak bukti pemesanan. Njagani hal-hal seperti ini.

Pak pemilik menawari kami makan malam juga. Mereka punya resto di sebelah. Bisa pesan makan di situ. Harganya agak mahal. Maka kami pilih masak nasi sendiri. Dalam perjalanan ini kami memang bawa rice cooker mini sendiri. Lauknya juga sebagian bawa dari rumah. Biar irit.

***

Dana Village Jordan
Rooftop sambung menyambung

DANA

Highlight perjalanan keluarga pelancong di Dana adalah ketika kami sarapan di rooftop. Bukan rooftop hotel Dana Moon. Melainkan deretan bangunan sampingnya yang karena letaknya lebih rendah, atapnya sejajar dengan lantai hotel kami. Rooftop beberapa bangunan di Desa Dana sambung-menyambung. Terbuat dari beton. Kalau mau bisa jalan-jalan di atas rumah orang.

Abis sarapan, kami langsung check out. Mobil nitip di hotel dulu. Sementara kami keliling desa. Dana desa kecil banget. Turisnya gak banyak, tapi ada. Ada bus wisata bawa turis berwajah Asia. Cuma datang sebentar, foto-foto, menghilang lagi. Ada beberapa mobil turis lokal.

Selain Dana Village, destinasi wisata di sekitar sini adalah Dana Reserve. Dana Reserve termasuk daerah dilindungi. Dan Dana Village dinobatkan sebagai desa ekowisata.

Berkeliling desa kecil Dana, banyak hal baru Emak temui. Cuma gak habis pikir, meski dinamakan desa ekowisata, sampah bertebaran di mana-mana. Seperti tempat-tempat lain di Yordania. Dari hotel kami berjalan ke sumber mata air desa. Sedikit hiking menuju turunan di antara pepohonan. Di kanan kiri mau pun di jalannya sendiri dengan mudah kita dapati sampah plastik.

Kami ikuti jalan turunan di pinggir desa. Ada sekeluarga piknik dekat mata air. Tadi ketemu bapaknya jalan mendahaului kami sambil bawa panci. Di sekitar mata air pun kami temukan sampah plastik.

Sumber air ini letaknya relatif di bawah desa. Airnya sebagian dialirkan ke saluran terbuka. Ada yang dialirkan ke bawah ke lahan pertanian. Serta perkebunan. Ada tanaman zaitun dan pohon-pohon delima. Sebagian dipompa ke rumah-rumah di atasnya. Airnya masih bersih. Tapi kami gak berani nyentuh ngeliat saluran terbukanya yang berlumut. Anak-anak keluarga yang sedang piknik mandi air sumber, sementara Bapaknya barbekuan.

Banyak rumah di desa ini dalam keadaan menyedihkan. Tembok rumahnya terbuat dari batu alam. Gentengnya ada yang tertutup seng, ada yang dibeton. Rumah-rumah berbentuk kotak dan bersambungan. Rumah-rumah kosong dibiarkan rusak. Jumlahnya tidak sedikit. Yang lebih menyedihkan, rumah kosong tersebut juga dijadikan tempat sampah.

Kami sempat masuk sebentar di masjid kecil Dana. Belum masuk waktu salat zuhur. Pintunya tak terkunci. Hampir semua bagian masjid terbuat dari pecahan batu alam. Termasuk menaranya. Keran air di luar berfungsi dengan baik. Airnya dingin. Bagian dalamnya remang-remang, terlihat sederhana. Dengan kipas angin dan karpet tipis.

***

ecotourism village dana village
Jalanan desa ekowisata Dana di Yordania

Seorang blogger Jerman menyebut Desa Dana sebagai desa hantu. Selain beberapa orang turis dan pegawai hotel, kami memang tak melihat banyak aktifitas penduduk setempat. Sepi, kayak gak ada penghuninya. Tamu-tamu sehotel dengan keluarga pelancong menghilang entah kemana. Seorang remaja sedang mengendalikan keledainya. Satu orang lagi sedang menyemprot dinding luar sebuah hotel dengan air. Puluhan kambing digembala seorang tua di lereng bukit. Selain itu, tak telrihat tanda-tanda kehidupan. Mungkin banyak penduduknya bekerja di luar desa.

Kami terus berjalan. masuk gang-gang sempit. Hingga sebuah tebing lembah dan ngarai. Tak terlihat ada sungai di bawah sana. Desa Dana terletak di tepi Wadi Dana. Dekat dengan kota Tafilah. Dan dari sini juga terlihat Wadi Araba. Entah mana Wadi Dana, mana Araba. Yang jelas, pemandangannya spektakuler. Gunung di seberang sana seperti berlapis-lapis. Ada warna cokelat dan merah terang. Bapak dan Embak foto-foto di pinggir ngarai. Nggak terjal, tapi bikin deg-degan pula kalau terlalu minggir.

Tak sampai dua jam kami keliling Dana. Mau menyempatkan makan siang dulu di resto desa, kami belum lapar. Mending lanjut berkendara menuju destinasi berikutnya di Yordania saja.

***

How to get to Dana

Tempat terpencil ini agak susah dicapai dengan kendaraan umum. Kalau dari Amman, ada bus kecil dari Mahatta al Jenoub  ke kota Tafilah. Dari Tafilah sambung taksi ke Dana.

3 Comments

  • Jalan jalan diatas atap rumah orang..? Yang punya rumah nggak ada yang marah apa mbak? Asyik juga kali, bisa nginjek2 atap rumah orang . hehehe.. Kalo disini langsung dikepruk, minimal dapat szemprotan air lah.

  • ira

    @Sarah: itu rumah2 nggak tau ada orangnya apa kagak, yah. Sepi pakai banget.

    @Cek Yan: ho-oh…. bete banget deh kalau inget. hehehehe. Iye, tempatnya ciamik pemandangannya. Katanya emang pernah dijadiin tempat syuting pilem..

Leave a Reply

%d bloggers like this: