Destinasi Wisata Mainstream Armenia

The Sevan Lake from SevanavankArmenia ini indah banget. Walaupun gak punya lautan, ia punya danau luas mirip sebuah laut. Turisnya belum terlalu banyak. Apalagi di musim dingin. Banyak travel agent menawarkan aneka daytrip dengan harga relatif terjangkau. Bisa lewat internet. Atau kalau sedang berada di Yerevan, tinggal pergi ke Republic square. Di mana mobil-mobil box memajang iklan tur dan dan kita bisa mengulik informasi tentangnya secara langsung lewat pekerjanya. Jika Emak perhatikan, harga-harga yang ditawarkan bersaing. Paketannya pun mirip-mirip.

Akan tetapi keluarga pelancong tidak ambil tur paketan sama sekali ketika berada di Armenia. Murah sih murah, tapi kalau dihitung buat empat orang, tetap berasa agak mahal. Sempat ada wacana untuk meminjam mobil sendiri untuk beberapa hari. Tapi melihat salju menumpuk di mana-mana, plus kami tak mau berspekulasi tentang kondisi jalanan di Armenia, keinginan tersebut kami lalaikan. Terlalu berbahaya jika tidak menguasai medan, meski Bapak termasuk sopir berpengalaman.

Tak disangka, qadarullah kami ketemu seorang pemuda, menawarkan jada transport. Kami mau ke Echmiadzin siang itu. Bus umum tak datang juga. Pemuda itu menawari kami naik mobilnya, menuliskan tarif di hape miliknya. Not bad, pikir kami. Tak perlu waktu lama, kami sudah dalam mobil sedan tahun 80-an. Yang pemanasnya disetel maksimal. Kami putuskan menyewa mobilnya lagi keesokan harinya, keesokannya lagi. Lebih murah dari paket-paket tur, bahkan masih lebih murah dibanding menyewa taksi. Dalam tiga hari tersebut, tiga kota berhasil keluarga pelancong sambangi.

Echmiadzin

Kota kecil ini berjarak sekitar 20 km dari pusat Yerevan. Sekitar setengah jam dengan mobil. Sepanjang jalan, kami lewati banyak permukiman. Salju tebal menumpuk di mana-mana. Terutama di tepi jalan. Sesekali kami berjumpa truk-truk penyapu salju. Meski tak semoderen penyapu salju Jerman, mereka tampak gigih membersihkan jalanan di Armenia.

Seperti di tanah air, di sepanjang jalan, kami melihat banyak sekali toko. Atau rumah sekaligus tempat usaha alias ruko. Pun pedagang kaki lima. Mereka yang menggelar dagangannya di meja di tepi jalan. Menunggui pembeli sambil duduk-duduk di bangku sederhana di sebelah atau belakang meja. Di Armenia, Yerevan utamanya, Emak sering melihat wajah-wajah campuran. Seperti wajah orang Mongol atau Asia tengah lainnya. Mungkin dari bekas wilayah Uni Sovyet lainnya.

Echmiadzin cathedral
Katedral sedang direnovasi

Echmiadzin merupakan salah satu tempat terpenting Armenia. Selain memiliki katedral tertua, ia juga menjadi pusat keagamaan. Di sinilah para pemimpin spiritual tinggal. Karenanya ia menarik para wisatawan religi. Wisatawan Filipina jadi pemandangan biasa di sini. Kami beberapa kali disangka Filipino.

“Banyak banget ya turis Filipina ke sini,” kata Emak kepada seorang Filipino sesama penghuni hotel.

“Iya. akhir Desember banyak yang ngambil libur. Mereka pilih Armenia. Ada penerbangan murah dari Dubai. Kami juga pengen ngeliat salju.”

Para Filipino ini rata-rata pakai tur. Datang dalam rombongan-rombongan besar. Banyakan masih muda-muda. Usia aktif para pekerja di Dubai. Ada juga sepasang Filipino usia 50-an di hotel. Katanya punya toko di Dubai dan istrinya punya maid dari Indonesia. Owww. Kok jadi nyeritain Filipino, sih…

Di antara Echmiadzin dan Yerevan terdapat tempat bernama Zvartnots. Di sini bandara internasional Yerevan berada. Selain itu, ada sebuah situs arkeologi. Kami Emak melihat gerbangnya, namun gak kepengen mampir.

Mas-mas sopir mengantar kami sampai persis di depan gerbang. Sejam lagi, kami janjian di tempat yang sama. Emak hanya ingin menyaksikan penampakan salah satu katedral tertua di dunia. Pusat keagamaan Echmiadzin menempati sebuah wilayah lumayan luas berbatas tembok sangat tinggi. Selain katedral, ia memiliki deretan gedung panjang. Berfungsi sebagai biara, sekolah theologi, perpustakaan, museum, toko buku, dan entah apa lagi. Satu jam kami tak cukup untuk mendatangi satu persatu.

Masuk kompleks, kami disambut deretan batu-batu khachkar di sisi kanan. Batu khachkar atau crosses stoned kami lihat hampir di semua tempat yang kami kunjungi di Armenia. Utamanya situs-situs religi. Kami berjalan langsung ke tujuan utama, katedral Echmiadzin.

Katedral Echmiadzin pertama kali dibangun pada tahun 480 masehi. Sebagian sedang direnovasi ketika kami di sana. Ukurannya termasuk besar. Telah berkali mengalami penambahan dari bentuk aslinya. Ia terbuat dari potongan batuan berwarna merah dan kehitaman. Kami beberapa kali melihat gereja Armenia. DI Istanbul, mau pun Tbilisi, Georgia. Gereja-gereja tersebut memiliki ciri arsitektur unik. Yakni memiliki rotunda, bagian berbentuk lingkaran mengerucut di bagian puncak. Ia memiliki tiga belfry, peling besar di bagian depan, di atas koridor ke arah pintu masuk gereja.

Siapa saja boleh masuk. Tentu saja harus berpakaian sopan. Serta tidak memotret atau mengambil video di bagian dalam katedral. Satu dua orang datang, lalu menyalakan lilin. Ada beberapa gambar ikon di dalamnya. Akan tetapi, tidak sebanyak gereja-gereja ortodoks di Bulgaria.

Garni 

Sepulang dari Echmiadzin, kami bilang ke mas-mas sopir, besok mau ke Garni dan Geghard. Berapa tarifnya? tanya kami. Tomorrow, kami bilang. Si mas menempelkan kedua tangannya sambil merem, memperagakan orang tidur, lalu jari telunjuk kanannya mengarah ke samping. Yes, jawab kami. Ditulisnya 12 ribu di layar hapenya. OK kami bilang. Lalu menulis jam brapa kami mau ketemu. Jam 11-an siang. Di depan masjid biru Yerevan, di mana kami janjian.

Besoknya kami sudah di depan masjid, lima menit sebelum pukul sebelas. Khawatir si mamas kelamaan nunggu. Ealah, belum ada kiranya. Emak berusaha mengingat sedan abu-abu tua miliknya. Kami tak mengingat atau mencatat nomor polinya. Tapi si mamas emang belum datang. Lima menit, sepuluh menit, belum ada tanda-tanda. Kami mulai cemas, dan kedinginan.

Grani pagan temple Armenia
Satu-satunya kuil Pagan di Armenia

Ealah, masnya datang nyaris duapuluh menit dari jadwal janjian. Kami sudah mau pergi. Kirain ia lupa. Empat penumpang turun dari mobilnya. Mungkin sedang nganter pelanggan lain. Tak lama, mobil tua ini berlari meninggalkan pusat kota Yerevan. Melewati jalan mendaki. Di mana kami melihat meja-meja penjual daging kambing dan sapi dan ayam. Jika Echmiadzin berada di barat Yerevan, Garni ke arah sebaliknya. Agak ke tenggara.

Semakin lama jalanan menyempit. Dan mulai mendaki. Kota berganti kampung. Kampung berganti padang luas dengan satu dua rumah, lalu hutan, dan pegunungan. Terkadang salju turun menghalagi pandangan. Jalanan beraspal, kondisi lumayan. Saljunya tak terlalu bersih, namun aman dilewati. Dan mendakinya tidak terlalu terjal. Emak agak parno kalau melewati jalan mendaki dan terjal. Apalagi dalam kondisi hujan atau bersalju. Sesekali mas sopir berhenti. Melempar gumpalan salju bersih ke kaca depan. Air semprotan di mobilnya tidak berfungsi. Beku kali.

Antara Garni dan Yerevan ada bus umum. Pergi dari sebuah stasiun di ibukota. Entah yang mana. Yerevan punya beberapa stasiun bus. Kami beberapa kali berpapasan. Eksteriornya menyedihkan. Hebat juga masih kuat nanjak di pegunungan. Yang menarik lagi, mobil Lada Niva jadi raja di Armenia. Bagai mobil sejuta umat. Jangan salah, kata Bapak. Itu mobil banyak yang 4WD. Kiyut juga. ada mobil mungil tapi 4WD.

Mobil terparkir di halaman situs Garni bisa dihitung dengan jari. Kami membayar tarif masuk seribu dram per orang. Atau sekitar Rp. 27.000,-. Tarif buat pengunjung asing 4 kali lipat lebih mahal. Tapi masih terbilang sangat murah. Mengingat Garni sebuah cagar budaya Armenia. Mas sopir mau masuk juga.

Kami menyelinyap ke dalam gerbang batu. Kompleks Garni tidak terlalu luas. Dan hari itu, hampir semua permukaannya tertutup salju tebal. Lagu-lagu lokal menemani kami di dalam. Sebuah kios cinderamata berdiri di sebelah kiri. Di kejauhan, kuil Garni terlihat mungil.

Garni adalah satu-satunya kuil Pagan yang masih tersisa di Armenia. Dibangun sekitar tahun 76 sebelum masehi. Untuk menghormati Mythra, sang dewi matahari. Ia lebih kecil dibanding bayangan Emak sebelumnya. Sekilas, bentuknya seperti kuil Augustus di kota Pula, Kroasia. Desain Garni berdasarkan geometri keramat di masa itu. Kami berjalan mendekatinya. membacai satu per satu papan informasi yang sebagian tertutup salju. Lalu naik ke undakan. Licin.

Di dalamnya terdapat satu ruangan kosong. Di ujung berhadapan dengan pintu terbuka adalah altar kuno. Konon, kuil ini pernah juga difungsikan sebagai masjid. Di sebelah kiri kuil terdapat tembok batu. Bekas istana Raja Argishti I. Hanya sedikit terlihat. Bagian bawahnya terkubur salju. Turun ke bawah, kami mendekati sebuah bangunan tertutup. Bekas pemandian dari zaman Romawi. Tapi dikunci, sehingga kami cuma bisa ngintip dari kacanya yang buram.

Geghard

Dari sini, kami bertolak ke Geghard. Kira-kira 8 km dari Garni. Tak ada kendaraan umum dari Garni kemari. Dari beberapa blog, banyak traveler pilih hiking. Ya, kalau musim panas, sepertinya seru juga hiking. Di musim dingin, pass aja deh. Jalanannya semakin sepi. Adanya hutan, ngarai dan gunung. Yap, Geghard memang terpencil. Jauh dari permukiman penduduk.

Biara Geghard

Meski terpencil, Geghard terlihat lebih banyak dikunjungi dibanding Garni. Kebanyakan turis Filipina. Di dekat parkiran, para pedagang menawarkan dagangannya kepada kami. Kebanyakan menjual manisan buah yang isinya kacang. Kami beli pas pulang, dan nyesel, ternyata enak banget. hehe.

Biara Geghard diperkirakan mulai didirikan sekitar abad 4. Oleh St. Gregory the Illuminator (S. Grigor Lusarovich). Akan tetapi, bangunan fisiknya sekarang, kira-kira dari abad 13 masehi. Dan masih berfungsi sebagai biara hingga saat ini. Dengan penambahan bangunan lebih moderen. Tak ada tarif masuk. Masuk ke courtyard, bangunan gereja langsung menarik perhatian. Pengunjung duduk-duduk di bangku sambil berbincang.

Bangunan utama gereja terdiri dari dua tingkat. Dari luar tak terlihat dua tingkatnya. Dan sebagian gereja dibangun menyatu dengan tebing tepat di sisinya. Yap, Geghard adalah gereja dalam perut bumi. Kami naik ke atas. Masuk dalam celah sempit. Penerangan hanya dari luar. Celah ini membawa kami ke ruangan lebih luas dan temaram. Di dalamnya terdapat beberapa pilar. Lantainya tidak rata, sebuah ornamen bintang di bagian tengah. Satu-satunya sumber cahaya adalah sebuah lubang di pusat sebuah dome besar di atas sana. Di satu ujung kami menemukan lubang kecil untuk mengintip ruangan bawah.

Kami turun, masuk ke bangunan utama gereja. Bagian depannya berisi pilar-pilar batu besar. Di samping terdapat ruang leih kecil dan gelap. Di lantainya, Emak melihat aliran air, muncul dari sela-sela batu gunung. Satu ruangan lagi adalah sebuah kapel. Tidak terlalu luas. Namun ruangan ini memiliki mebel dan altar.

Banyak turis berjalan ke arah pintu belakang. Kami penasaran. Ikutan keluar. Eh, disambut pemandangan pegunungan cantik banget. Awan sedikit tersibak. Mengungkap biru langit di baliknya. Kami berjalan ke arah sungai kecil. Air sungainya tak membeku permukaannya. Pepohonan di sekitarnya sudah seperti boneka salju. Di atas sungai, membentang sebuah jembatan batu. Objek foto favorit turis.

Danau Sevan

Keesokan harinya, destinasi kami Danau Sevan. Salah satu danau air tawar terluas dunia. Mas-mas sopir menawari kami ke Chor Virap sebelumnya. Dia menunjukkan foto-foto di hapenya. Emak tahu itu tempat bagus. Tempat paling tepat untuk menyaksikan kemegahan Gunung Ararat. Yang meski gunungnya di Turki, gunung tersebut jadi ikon Armenia. Di musim dingin kelabu seperti ini, Emak ragu bakal bisa melihat Gunung Araratnya. Jarak pandang sangat terbatas akibat salju atau kabut tebal.

Sevanavank

Ini destinasi terjauh keluarga pelancong dari Yerevan. Berjarak sekitar 70 km. Ditempuh sejam seperempat menit. Selama perjalanan, rasanya semua tempat di Armenia tertutup salju tebal. Kami lewat highway. Kecepatan maksimal kalau gak salah 80 kmh. Tapi mas sopir kadang jalan sampai 100 kmh. Oh ya, di jalanan Armenia sering ada patroli polisi serta sesekali ada kamera penjepret para raja jalanan. Eh, si mas-mas sopir lebih canggih. Di dalam mobilnya ada alat kotak yang bunyi nyaring kalau ada polisi patroli. Semacam alarm peringatan gituh. Wah, Emak baru kali ini lihat alat seperti itu.

Danau Sevan meliputi 5 persen luas Armenia. Kota Sevan ada di pinggiran danau. Sebuah danau dikelilingi pegunungan, berada di ketinggian 2.000 mdl. Tempat ini jadi lokasi chilling warga Yerevan di musim panas. Jadi pemandian kayak di pantai. Pantainya sebagian udah dipetak-petak oleh hotel atau resor. Di musim dingin, pengunjungnya dikit. Ya lah, udah chill banget, orang butuh kehangatan, malah.

Si mas sopir langsung membawa kami ke kaki Sevanavank, sebuah gereja tua. Kalau mau ke Sevanavank, kudu hiking dulu. Mulanya Emak males. Motret-motret aja di pinggir. Eh, tapi mestinya pemandangan dari atas lebih cakep, yah. Dengan berat kaki, sebab pakai boot lumayan tebel, Emak naikin tangga satu per satu. Ditinggal oleh Bapak dan anak-anak. Lumayan tinggi seh. naiknya gak butuh waktu terlalu lama. Nggak sampai setengah jam, udah diselilingi photo-stop dan berhenti buat ngambil napas, Emak dah sampai pintu masuk gereja. Gerejanya tutup, tapi orang emang datang kemari buat menikmati view danau.

Danau ini terlihat luas banget. Udah kayak lautan ajah. Pemandangan alam didominasi warna biru. Pengunungannnya hamir semuanya putih. Air danau biru, dan langit campuran biru putih. meski jauh, cuma sebentar, dan sepi, Emak ndak merasa rugi sudah kemari. Sebelum balik Yerevan, kami sempatkan berjalan ke arah anjungan kayu di tepi danau. Ada beberapa perahu sedang berlayar. Katanya, salah satu thing to do di sini adalah makan ikan danau. Sayang, kami tak sempat.

Batu Khachkar

Batu khachkar di kompleks katedral Echmiadzin

Sepanjang perjalanan kami di Armenia, batu-batu ini selalu kami temui. Di pusat kota Yerevan, di dekat pintu masuk katedral Echmiadzin, di dalam kompleks Kuil Garni, di tebing-tebing batu Biara Geghard, dan di luar gereja Sevanavank, tergeletak atau berdiri batu-batu khachkar. Ribuan batu khachkar tersebar di seluruh Armenia. Menjadi salah satu simbol identitas bangsa. Salah satu bentuk seni religi berusia hampir dua ribu tahun. Mereka membuat khachkar untuk perayaan keagamaan, mendedikasikan ke para santa atau pemimpin agama, atau sebagai bentuk kebanggaan ke pada gereja, agama, serta negara. Khachkar masih dibuat hingga kini oleh para pengrajin Armenia.

***

Baca juga: Visa on Arrival Armenia

Baca juga: Mengunjungi Armenia di Musim Dingin

Baca juga: Kota Pink Yerevan

 

5 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: