Galeries Lafayette Paris

Menyisir Pusat Perbelanjaan Mewah Paris

Alhamdulillah, keluarga pelancong mendapatkan rezeki. Bisa kembali mengunjungi Paris. Kali ini bisa menginap.

Seorang sahabat lama di dunia maya, namun belum pernah kami temui sebelumnya mengundang kami untuk bermalam di salah satu kediaman mereka. Sebuah vila di pinggiran kota Paris. Kira-kira 40 menit perjalanan mobil ke kota cinta. Tentu saja undangan ini kami sambut dengan suka cita.

Pusat belanja barang bermerek Paris
Di dalam Galeries Lafayette, Paris

Di Paris apa-apa mahal. Termasuk juga penginapan. Ajakan menginap sekaligus bertemu kawan pantang dilewatkan. Di akhir minggu panjang akhir April, kami bertolak ke sana. Kira-kira 6 jam dengan mobil dari rumah. Paris tak terlalu jauh dari rumah kami.

Ketika kami sekeluarga berada di ibukota Perancis ini, cuaca tak terlalu bagus. Sering hujan. Kami kerasan tinggal di rumah mereka. Maunya bermalas-malasan di dalam rumah saja. hehehe. Sehingga tak banyak tempat kami eksplor.

Hari kedua, bingung juga mau kemana awalnya. Saat mau ke Paris, kami memang tidak siap-siap itinerary. Niat utamanya mau berkunjung saja. Ya sudah, akhirnya kami putuskan wisata belanja. Cieee… Nggak belanja banyak seh. Cuma mau melihat-lihat dua perbelanjaan super mewah Paris, Galeries La Fayette dan Printemps.

Di kota Metz, di Perancis Timur, kami pernah masuk salah satu cabang Galeries Lafayette. Akan tetapi, gedungnya di Metz terlihat baru dan modern. Sedangkan yang di Paris ini kuno namun eksklusif.

Kami memarkir mobil di sebuah lahan parkir bawah tanah. Akan tetapi tidak parkir di Lafayette, sebab biaya parkirnya lebih mahal. Mending jalan sedikit ke seberangnya. Di bawah gedung C & A.

Sebagai pemanasan, Emak dan Embak belok ke H & M dulu. Sehari sebelumnya kami lihat tunik cantik di cabang H & M lain. Eh, di situ gak ketemu. Ramai sekali deretan tempat belanja dan trotoar di depan Lafayette.

Kami pun masuk ke gedung Galeries Lafayette pertama. Gedung yang isinya barang-barang buat lelaki. Di dekat pintu masuk, dua penjaga berjas dan berkulit hitam berjaga-jaga. Sesekali memeriksa tas pendatang toko. Barang-barang mewah dan harganya mahal terpampang di depan mata. Baju, tas, jam tangan, jas, segala rupa. Merek-merek yang pernah Emak baca di majalah. Pastinya yang dijual di sini bukan yang KW, yah.

Melihat dompet pria dari merek yang tak Emak kenal, dan katanya didiskon pun harganya sudah diatas 50 euro (Rp. 750.000,-). Pelanggan Lafayette kebanyakan bermata sipit. Turis dari Tiongkok. Belanjanya jam tangan Rolex, tas-tas mahal, baju-baju keluaran desainer. Emak lirik, pas bayar di kasir, jumlahnya rata-rata 4 sampai 5 digit euro. Biuhhh…. Turis Tiongkok tajir-tajir juga, euy.

Tempat Selfie di Lafayette

Kami naik eskalator menuju bagian atas Galeries Lafayette. Tak kami eksplor satu per satu isi tiap lantai galeri. Sudah keder duluan melihat harga tak ramah kantong. Kantong kami tentunya. Bahkan mau motret harganya pakai hape pun kami malu hati. Lha gak ada yang berselfie maupun potrat potret di daerah sini.

Selfie di Paris dnegan tongsis
Selfie berlatar belakang menara Eiffel

Tempat yang kami cari tak ketemu. Menyeberanglah kami ke gedung sebelah. Entah di lantai berapa, ada jembatan dari gedung penyedia kebutuhan pria ke gedung sebelah, penyedia kebutuhan wanita. Dari sini akhirnya nemu tangga hingga puncak galeri. Sebuah tempat di mana kami bisa memandang Paris dari ketinggian.

Ramai juga tempat ini. Ada sebuah restoran masakan India. Tempat terbuka ini beralas karpet. Bangku-bangku tersedia. Sayang banyak genangan sisa air hujan. Cuaca mendung dan sesekali gerimis ketika kami di puncak Lafayette.

Dari sini, kami memandang dan merekam suasana Paris. Menara Eiffel menjulang di kejauhan. Tertutup selubung kabut tipis. Orang-orang ramai berselfie. Ada yang menggunakan hape dan dicekrek pakai tangan. Beberapa memanfaatkan tongsis. Asyik sekali memang kalau punya si tongkat narsis begini. Di sini Emak merasa iri. Dan menyesal, kenapa sampai sekarang belum punya tongsis juga. Sebab di pusat perbelanjaan ini tersedia wifi gratis, tentunya abis narsis bisa langsung pamer di media sosial. Amboii…

Turun, kami duduk-duduk sebentar di dekat pusat suvenir Lafayette. Di sini rupanya tempat favorit pembeli. Full orang membeli aneka pernak-pernik Paris. Dari kaos, baju, gantungan kunci, permen, hingga lego berbentuk menara Eiffel.

Arsitektur di gedung Lafayette pusat kebutuhan wanita ini pun sangat mengagumkan. Tak mengherankan jika kemudian banyak yang memotret interiornya. Spot-spot pendek di antara barang-barang dagangan jadi rebutan pengunjung untuk memotret kubah Lafayette. Sebuah kubah kaca berhias lukisan warna-warni. Pilar-pilar menyangga kubah. Di antara dua pilar, terbentuk lekukan mirip busur-busur besar. Cantik sekali.

Tak lama, entah mengapa kepala Emak mulai nyut-nyutan. Mirip gejala claustrophobia. Emak heran, padahal ini tempat meski ramai pengunjung, kan luas banget. Kenapa phobia kumat? Di lantai dasar, kami kehilangan orientasi. Berjalan di antara konter-konter kosmetika, bingung mencari jalan keluar.

Di luar bergerombol lebih banyak lagi turis dari Tiongkok. Kebanyakan para senior berusia sekitar 50-an. Bus-bus berjajar sedang menunggu atau menaik-turunkan para turis dari negeri tirai bambu ini. Ada yang makan nasi dari wadah bekal. Ada yang batuk-batuk lalu meludah sembarang. Huekkk, jadi tambah muneg-muneg ngeliatnya. Di tangannya, ada tentengan tas-tas belanja Lafayette. Asap rokok berhamburan di sana-sini. Oh, kepala makin puyeng saja. Tolongggggg!

Galeries Lafayette

9 Arrondissement, Paris

14 Comments

  • Mbak, sampeyan puyeng soaleelewatkan belanja, dadi atine sampeyan kirim signal ke kepala 🙂 nek Mari belonjo tambah ngelu maneh, jebol kantong e.:))))

    Tongsis memang asik buat narsis

  • ira

    @Zulfa: hahahaha, bener bekne analisamu. Ngelu ndelok barang2 larang, apa daya isih gak mampu tuku.

    @Mas Priyo: Bener, Mas… Lafayette kebanyakan isinya orang-orang mereka. Bawa tas belanjanya banyak banget. Yang dibeli yang merek2. ckckckckc… Tiongkok negeri OKB, yah.

  • Di sana masih boleh pake tongsis ya mbak 😀 soalnya di beberapa negara tongsis sudah mulai dilarang. Tapi emang, keberadaannya sangat membantu banget, terutama bagi yang suka sungkan minta tolong orang buat fotoin 🙂

  • Helene

    La Fayette emang cantik interiornya. Dan saya, jarang banget belanja di sini, kecuali lg musim sale. Main ke sini kalau pas ada teman datang aja, atau janjian ama teman ngambil pesanan makanan kampung, batagor, bakso, ayam kremes, krn di sini suka dijadi’in meeting pointnya, hihihi.

    Emang turis China kaya-kaya, pernah di butik Channel, pembayaran mereka ditolak, krn pembayaran sejumlah 20.000 euro cash….!! ????????

  • ira

    @Ima: yang mana ya, Ma? Kemarin gak liat itu di sana.

    @Cek Yan: Kemarin sih masih boleh. Di sekitar Eiffel pun banyak yang pakai.

    @Mbak Helene: wuihhh bawa cash-nya banyak banget ya, Mbak… Di bandara kudu lapor brarti, yah..Kemarin aku juga bengong ngeliat harga-harganya, Mbak. Duhhh, kerjanya apa, yah biar bisa punya duit segitu? hihihi

  • Aaaah ini cerita perjalanan ketemu ama mbak Helene yaa? senangnyaa.. 🙂
    Hiks! iya mbak sampe sekarang aku juga masih belum punya tongsis (TONGkat narSIS) selama ini pake tongsis (TOloNG donk SIS..) alias minta tolong mbak-mbak yang lewat 😀

  • ira

    @Mbak Dee An: ketemu ama Mbak Helene-nya bukan di sini. In shaa Allah cerita yang itu segera menyusul. 🙂

  • ira

    @Mbak Katerina: tossss….. di sini dah mulai musim nih tongsis. Harganya pun mulai bersahabat.

  • ira

    @Zahra: aku doakan selalu buat Zahra, ya…. Biar cita2 berselfie di Paris pakai tongsis kesampaian. aamiin…

Leave a Reply

%d bloggers like this: