Halal Traveling Tokyo

Masjid Agung Tokyo

Wisata halal sedang ngetren di beberapa belahan dunia. Gak cuma di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, Turki, Yordania, Oman, Uni Emirat Arab, Malaysia, dll.  Negeri yang jumlah muslimnya lebih sedikit pun menggenjot pariwisata halalnya. Seperti Jepang, Korea, dan negara-negara Eropa. Mereka sangat mendukung perkembangan wisata halal. Sebab pangsa pasarnya memang sangat besar #emaksoktau .

Memang jika berkunjung ke objek-objek atau kota-kota destinasi wisata, terasa sekali perbedaannya. Turis-turis muslim lebih sering terlihat di kota-kota seperti Paris dan Barcelona dibanding sebelumnya. Sepanjang Las Ramblas, berdiri beberapa kedai makanan halal. Waktu kami ke Sarajevo tahun lalu, banyak kedai makanan memasang label halal, padahal sebelumnya tidak demikian. Menurut informasi dari teman di sana, wisatawan dari negara-negara Arab dan Malaysia bertambah banyak saja ke Bosnia.

Demikian pula dengan Jepang. Khususnya Tokyo, yang sudah pernah Emak kunjungi. Turis wanita dengan penutup kepala bukan hal aneh. Kebanyakan dari Malaysia dan Indonesia. Grup backpacker yang Emak ikuti banyak terselip kisah-kisah perjalanan mereka di negeri Sakura. Setiap musim ada saja yang posting tentang Jepang. Tentunya ndak rugi kalau pelaku usaha wisata di sana mengakomodasi kebutuhan para pelancong muslim.

Di bandara Tokyo, kami sudah mendapatkan peta khusus yang memberikan informasi mengenai keberadaan beberapa warung makan halal di sebagian Tokyo. Kebanyakan di daerah Asakusa. Selain itu ada juga beberapa aplikasi yang bisa diunduh lewat smartphone. Dan kami gunakan peta tersebut untuk wisata kuline halal Tokyo. Selain itu, selama beberapa hari di sana, kami mengunjungi dua masjidnya Masjid As-Salaam dan Tokyo Cami.

Masjid As Salaam

Ruang sholat wanita Masjid As Salaam, Tokyo

Kami mengunjunginya setelah bertandang ke Taman Ueno. Saat itu sudah masuk waktu zuhur. Berbekal gmaps, kami pun menjelajahi pertokoan, lalu masuk beberapa perkampungan Tokyo. Menurut Lia, teman seperjalanan Emak, dilihat dari foto di internet, Masjid bentuk bangunan gedung As Salaam mirip gedung apartemen biasa. Agak jauh juga sih dari Taman Ueno kalau jalan kaki. Sekitar 25 – 30 menit kami jalan kaki. Sesekali kami mengecek arah, apa bener jalannya. Namun akhirnya masjid tersebut ketemu juga. Oh ya, kalau naik metro, halte terdekatnya adalah Okachimachi.

Benar kata Lia, sekilas masjidnya mirip sebuah gedung apartemen. Apalagi kalau dilihat dari samping. Tampak depan, baru terlihat tanda-tanda ia sebuah masjid. Bangunan masjidnya terdiri dari lima tingkat. Bagian puncak memiliki kubah mini. lantai dasar memiliki kantor. Kami langsung beranjak ke ruang sembahyang wanita di lantai dua. Sebelah ruang sholat bisa kita temukan toilet dan ruang wudu. Tempat sholatnya tidak terlalu luas. Mungkin menampung sekitar 30-40 jamaah. Tak lama setelah kami datang, datang serombongan wanita yang tampaknya berasal dari India/Pakistan/ Bangladesh. Kami juga sempat mengobrol dengan seorang pengunjung wanita asal Malaysia.

Tokyo Camii

Kalau dengar namanya, yang mengandung camii, Emak duga, masjid ini ada hubungannya dengan Turki. Benar saja, melihat kubah hijau dan minaretnya dari kejauhan, langsung teringat masjid-masjid Turki di Turki serta di belahan Eropa lainnya. Bagian atasnya memiliki sebuah kubah besar, dikelilingi kubah-kubah lebih kecil. Minaretnya berbentuk seperti pensil lancip yang memiliki ornamen di tengahnya.

Toko suvenir dan sedikit camilan halal, Tokyo

Emak sempat dua kali ke masjid ini. Pertama diantar seorang teman Lia. Halte metro terdekatnya adalah Yoyogi Uehara. Dari situ plus jalan kaki sekitar 10 menit. Kali kedua, Emak pergi sendiri, sempat kebingungan nyari masjid, karena salah mengambil exit metro. Kali kedua itu dalam rangka pengen ikut buka bersama di masjid. Sedangkan pada kunjungan pertama, Emak lebih banyak menikmati isi masjid.

Ruang sembahyang berada di lantai atas. Bisa dicapai melalui tangga yang lumayan tinggi. Ruang sholat wanita di galeri belakang atas. Ada tangga lainnya untuk menuju kemari. Interiornya khas beberapa masjid Turki di Eropa. Tembok bercat putih berhias kaligrafi dan lukisan di beberapa bagian. Sederhana namun elegan. Karpetnya tebal dan empuk. Oh ya, ruang wudu dan toilet di lantai bawah. Di lantai bawah juga terdapat aula, ruang-ruang belajar serta sebuah toko. Nah, toko kecil ini menjual suvenir serta beberapa camilan halal khas Jepang. Emak membeli Baumkuchen berlabel halal. Sebuah kue Jerman yang sangat populer di Jepang.

Masjid satu ini lumayan banyak pengunjungnya. Terdiri dari para turis dari negeri muslim seperti kami, serta warga lokal yang ingin mengetahui suasana masjid. Semua boleh masuk, asal berbusana sopan. Ketika Emak datang saat buka bersama, lumayan ramai jamaah. Emak isa menyaksikan warga Jepang muslim bergabung dengan saudara-saudara seiman dari Timur Tengah, Turki, serta Asia. Sungguh menyenangkan. Hidangannya khas Turki. Dihidangkan di atas nampan metal. Alhamdulillah sempat merasakan suasana puasa di Tokyo, meski cuma sebentar.

Ramen Halal Naritaya

Peta wisata kuliner halal yang kami dapatkan di bandara meliputi wilayah Asakusa. Kalau dilihat di peta, ada beberapa tempat makan halal. Pilihan pertama kami adalah icip-icip ramen halal di kedai bernama Naritaya. Daerah pertokoan di Asakusa sekitar jam 6 sore sudah mulai tutup. Kami yang pilih-jalan ke pertokoan dan kuil dulu agak cemas, kalau ternyata Naritaya tutup juga. Eh dari kejauhan ada mas-mas melambai melihat kami yang berkerudung. “Kalian pasti mau kemari,” katanya sambil menunjuk ke warung ramen tujuan. Kami lega.

Ramen ayam dan chicken karaage Naritaya

Masnya udah bisa nebak. Kami langsung masuk dan pesen ramen. Emak pesen ramen ayam ajah. Tanta Lia pakai tambahan ayam goreng karaage. Menunya tertempel di tembok. Yang sedang bekerja di sana tiga orang, satu wanita dan dua lelaki. Semua berwajah India/Pakistan/Bangladesh. Kalau gak salah, emang dua orang dari Pakistan. Mereka semua bisa berbahasa Inggris. Yang meracik ramen kami yang perempuan. Dapurnya berada di lantai dasar. Di depan dapur terdapat tempat meja panjang dna bangku-bangku. Ruangan lainnya di lantai atas. Ada beberapa turis Malaysia, masuk setelah kami dan duduk di atas. Di lantai atas terdapat ruang sembahyang mini, cukup buat satu orang serta ada tempat wudu yang juga mini.

Pertama kali makan ramen, menurut Emak agak aneh rasanya. Kaldunya berwarna coklat. Ada campuran bayam serta bawang bombay yang dipotong agak tipis, membuat Emak menyingkirkannya satu per satu. Ada rasa pahit dan sedikit rasa minyak wijen di kuahnya. Trus ada tambahan separuh telur rebus.Emak juga kebanyakan ngasih cabe, sehingga rasanya jadi nano-nano. Ayam goreng karaagenya juga berminyak banget. Pengalaman pertama yang kurang menggoda. Jadi agak parno nyobain ramen lagi. Masih kalah jauh dibanding ramen andalan Indonesia, lah. Kata masnya yang njaga, pelanggan mereka kebanyakan berasal dari Malaysia dan Indonesia.

Kalau gak salah harga semangkok ramen di Naritaya termurah sekitar 750 yen.

Cafe Sekai Asakusa

Cafe Sekai Asakusa

Asakusa merupakan salah satu tempat ynag paling sering Emak kunjungi selama berada di Tokyo. Baik barengan mau pun sendirian. Waktu nyoba menu Cafe Sekai, Emak sendirian. Sesuai dnegan namanya, tempat ini bersuasana kafe. Semua pekerjanya warga lokal. Pengunjungnya beragam, sebab kafe ini menjual fair trade produk, termasuk juga menu halal dan vegetarian. Tempatnya sangat enak, bersih, waitress-nya super ramah. Selain Emak, ada beberapa turis dari Malaysia mau pun turis berkulit putih. Mejanya lumayan banyak. Ada tempat sembahyang mini di pojok depan, tempat Emak numpang sholat zuhur. Meski ada tempat wudu kecil, Emak pilih wudu di toilet di lantai atas.

Menu makanan di sini lebih kekinian. Bukan masakan khas Jepang. Ada burger, kentang goreng, pizza, salad. Emak pilih mie vegetarian. Ada campuran dari keledai, namun rasanya dan teksturnya agak mirip daging. Harga makanannya gak murah-murah amat. Sekali makan paling nggak 1000 – 1.500 yen. Belum termasuk minuman. Tapi kalau mau air putih, gratis. Makanannya enak. Porsinya gak terlalu gede. Alhamdulillah ada kafe halal semacam ini di wilayah turis ramai Tokyo.

***

Baca juga: Tokyo for Beginner 

Baca juga: Proses Aplikasi Visa Jepang 

3 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: