Kotor, Di Awal Kedatangan

„Apanya?“

„Maksudnya kami mau ke Kotor.“

„Iya, apanya yang Kotor?“

Hehehehe…. Dalam bahasa Indonesia, ia tak ideal untuk dijadikan nama sebuah kota. Tapi ini di Montenegro. Artinya tentu saja beda. Tapi tetap saja bikin tersenyum saat menyebutnya. Apalagi dalam perjalanan ada plang petunjuk arah, salah satunya bertuliskan : Luka Kotor.

„Yaaaa, infeksi dong!“ celetuk Lia.

Dari Podgorica, lepas makan malam, kami langsung meluncur menuju Kotor. Sebenarnya ada beberapa pilihan tempat menginap setelah Podgorica. Budva atau Kotor. Akhirnya kami pilih Kotor yang lokasinya lebih ke utara. Agar lebih dekat ke arah Kroasia.

Hampir sepanjang jalan kami lewat jalan pegunungan. Dari Podgorica lewat Cetinje. Baru menyusuri tepi laut ketika sampai Budva. Kota satu ini tampak ramai dan modern. Sekilas mirip Nice di Riviera Perancis.

Kami deg-degan juga. Sampai di Kotor sudah hampir jam sepuluh malam. Sedangkan batas check in juga jam 10. Mana alamat penginapannya susah dicari. Letak penginpan tersebut, agak keluar kota. Di Dobrota.

Setelah beberapa kali salah jalan. Akhirnya ketemu juga. Sudah sangat sepi, gelap, tak terlihat ada orang. Terlihat beberapa pintu, bapak-bapak mencoba mengetuk satu per satu. Tak ada yang menjawab. Ada satu pintu bertuliskan apartment tak terkunci. Mereka masuk, tak ketemu siapa-siapa juga. Emak kirim sms, memberitahukan kedatangan kami. Tak dibalas.

Emak mulai panik. Waduh, bagaimana ini. Kami menenangkan diri sejenak. Vila ini sedang sangat sepi. Tak ada tanda-tanda orang menginap di sana. Eh, tapi Emak yakin ada orang.

„Cerobong asapnya mengeluarkan asap, dan terdengar suara mirip diesel. Mestinya ada orang di sana.“

„Di sebelah bangunan tinggi apartemen, ada ruangan lagi. Tak terlalu besar. Samar-samar terlihat lampu dan televisi menyala.

„Ayo kita coba ketuk.“ Kata Bapk menggamit tangan Emak.

Bapak memencet bel. Seorang lelaki tua tinggi besar membuka pintu. Agak seram. Ternyata bisa bahasa Jerman.

Emak mengulurkan bukti booking apartemen. Si Bapak membaca sebentar sebelum akhirnya mengajak kami masuk ke bangunan utama. Yeah, masalah sudah teratasi.  Malam ini memang tak ada tamu lain. Padahal ada 17 kamar. Bagian dalamnya bersih. Kami boleh memilih mau menempati yang mana. Kami pilih di lantai dasar saja.

Kejutan manis menyambut pagi hari kami….

(Bersambung dulu, yeeee!) 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: