Mengunjungi Armenia di Musim Dingin

Gereja dalam tanah di ArmeniaNegara atau destinasi tujuan keluarga pelancong sering membuat kerabat, kenalan, handai taulan kami mengangkat alis tinggi ketika kami sebutkan, saat mereka bertanya, kemana kami liburan ini? Setelah dijawab, hampir selalu ada pertanyaan lanjutan atau keheranan. Memang ada apa di sana? Itu tempatnya aman? Gak takut kenapa-kenapa kalau ke sana? Sampai  ketika kami memilih Armenia sebagai bahan kunjungan musim dingin tahun 2016 lalu, banyak reaksi keheranan kami terima. Bukannya di sana temperatur bakal lebih dingin dibanding di Jerman? Ngapain ke sana musim dingin? Mau lihat apa di sana? Ndak ada tempat lain untuk dikunjungi, apa? Kok ndak milih destinasi yang hangat saja?

Buat sebagian orang, mungkin destinasi pilihan keluarga pelancong tampak random, ndak umum, ndak terkenal. Namun bagi kami, rumus menentukan sebuah negara tujuan itu mudah saja. Pertama, kami memprioritaskan negara-negara yang belum pernah kami kunjungi. Kedua, bujetnya sesuai kantong. Selebihya tinggal menyesuaikan waktu liburan anak-anak dan apakah Bapak dapat cuti atau tidak dari Pak Bos-nya.

Informasi tanggal liburan sekolah anak bisa didapatkan jauh-jauh hari sebelumnya. Sehingga biasanya cuti Bapak pun disesuaikan dengan liburan mereka. Seperti biasa, harga tiket pesawat di hari libur hampir selalu melambung jauh terbang tinggi. Di musim dingin, keinginan mengunjungi negara hangat yang belum pernah dikunjungi,  dengan bujet sesuai kantong kami, rasanya hampir mustahil. That’s why, kami kebagian destinasi yang anti-mainstream buat traveling. Tapinya lumayan banget buat nambah setempel di paspor. hehehe.

Akhir tahun 2016 kami mendapat tiket dengan harga sesuai bujet Brussel – Yerevan pp dari Ukraina International, transit di Kiev, Ukraina. Ceki-ceki harga visa on arrival serta hotel di sana, eh, lumayan terjangkau juga. Mari kita fix-kan saja.

Baca juga: Visa on Arrival Armenia 

Musim Dingin di Yerevan

Musim dingin memang bukan masa ideal buat keliling Armenia. Sebelas hari di sana selama akhir Desember sampai awal Januari, suhu udara bisa mencapai -20°C. Saljunya tebal, menumpuk di jalanan. Kami hampir tidak pernah mendapat rezeki langit jernih. Yang ada, langit abu-abu setia menyertai kemana pun kita berada.

Winter in Yerevan
Jalanan tertutup salju dan licin

Sebelum berangkat kami memang sudah mengecek cuaca di Yerevan. Sudah bisa mengira-ira bakal seberapa dingin. Persiapan kostum pun disesuaikan. Bawa beberapa biji daleman khusus buat main ski. Plus jaket paling anti dingin, kaus kaki ski, dan sarung tangan thinsulate. Sepatu juga yang winter proof. Nyatanya masih belum terlalu memadai. Kami hanya tahan 3-4 jam saja di luaran. Lebih dari itu, dinginnya udara sudah mulai merasuki ujung kaki dan tangan. Padahal, Emak pakai pakai sarung tangan dua lapis. Satu sarung tangan lebih tipis di bawah sarung tangan thinsulate.

Kami sampai di Yerevan tepat di malam natal. Dugaan Emak, semua bakal sepi dan toko pada tutup. Ternyata supermarket masih buka, sampai pukul 8 malam kalau tidak salah. Restoran-restoran juga buka seperti biasa. Kami menggunakan jasa jemputan dari hotel. Harganya saat itu 4000 dram Armenia sekali jalan. Pas keluar bagian kedatangan di bandara Zvartnots, kami banyak ditawari taksi. Katanya seh, kalau bisa nawar bisa dapat 3000-an dram.

Di musim dingin Yerevan, dan hampir semua tempat yang kami kunjungi di Armenia bagai sebuah winter wonderland. Cantik, tapi agak menyebalkan. Menyebalkan karena sangat dingin, dan licin di jalanan. Dan karena cuaca hampir selalu kelabu, foto-foto dan video yang kami hasilkan pun kebanyakan abu-abu. hehehe. Satu lagi, karena gak kuat lama-lama di luar, kami menghabiskan jauh lebih banyak waktu di dalam hotel. Hotelnya punya dapur cantik dan moderen. Di hotel yang hangat dan nyaman ini, kami malah masak-masak di dapurnya. Pagi siang sore. Sampai ada tamu lain yang komentar, kok kalian kerasan di dalam hotel sih?

Agak susah nyari orang yang bisa bahasa Inggris di Armenia. Tapi masih nyambung meski kebanyakan bahasa isyarat. Paling nggak, kalau nanya arah, sambil nunjuk-nunjuk peta, mereka mengerti. Oh ya, di Armenia kami ketemu banyak sekali turis dari Filipina. Di hotel kami pun isinya sebagian besar warga Filipina. Ada pula seorang India yang mau nyari kerja di Georgia. Karena sesama dari Asia, seneng banget ngobrol ama mereka. Orang Filipina ini semuanya terbang dari Dubai. Mereka semua bekerja di sana. Katanya mereka berama-ramai menyerbu Armenia sejak ada penerbangan murah FlyDubai antara Dubai dan Yerevan.

Getting Around

Tinggal di sebuah hotel, dekat dengan pusat kota, kami sama sekali tidak menggunakan kendaraan umum selama berada di Yerevan. Pusat kotanya masih bisa dikitari sambil berjalan kaki. Tantangannya hanya udara dingin dan jalanan licin akibat salju yang berubah menjadi es. Apalagi ada saat tertentu, trotoar belum belum sempat dibersihkan dari salju. Dan beberapa bagian trotoar di Yerevan, berlapis keramik, membuat jalanan semakin licin. Alasan lain kenapa kami memilih jalan kaki keliling Yerevan adalah karena susah sekali menemukan orang ynag bisa berbahasa Inggris. Semua tulisan di bus kota tertulis dalam huruf dan bahasa mereka. Sementara kami perhatikan, halte-halte bus juga gak ada namanya. Kalu kesasar, malah bikin bete dan menghabiskan waktu juga.

Garni temple in winter
Kuil Garni di musim dingin

Keluarga pelancong juga melancong ke beberapa tempat di luar Yerevan. Mula-mula kami mau pakai kendaraan umum. Ada beberapa sopir taksi menawari untuk jalan-jalan ke luar, dengan bahasa Inggris terbata, masih ragu. Dan di daerah Republic Square, kita akan banyak melihat mobil-mobil mengiklankan tur ke beberapa tempat di Armenia. Tidak terlalu mahal. Akan tetapi kalau diitung buat empat orang, yah, lumayan menguras kantong juga. Masih jauh lebih murah kalau naik kendaraan umum. Alternatif lainnya adalah menyewa taksi. Di internet terdapat ancer-ancer harga taksi jika kita sewa keluar kota. Sepertinya kita bisa tawar menawar harganya.

Saat itu kami mau ke Echmiadzin, melongok gereja tertua dunia. Armenia merupakan negara pertama yang menjadikan Kristiani sebagai agama negara. Dan mereka percaya bahwa bangsa Armenia berasal dari salah satu keturunan Nabi Nuh. Gunung Ararat, berada di timur Turki, dekat perbatasan dengan Armenia, merupakan salah satu lambang sekaligus kebanggaan Armenia. Mereka juga percaya, di puncak gunung Ararat itulah bahtera Nabi Nuh berlabuh setelah datangnya air bah.

Kami menunggu bus ke Echmiadzin, yang menurut sebuah informasi di internet, haltenya tak jauh dari penginapan kami. Agak lama kami menunggu di pengkolan. Seorang pemuda mendekati, mengajak ngobrol dengan bahasa Armenia. Sepertinya menanyakan kami mau kemana. Kami bilang menunggu bus ke Echmiadzin. Dia bilang, busnya gak lewat situ. Kami ndak percaya pada mulanya. Trus nanya ke ibu-ibu pemilik kios, kebetulan bisa bahasa Inggris sedikit. Kata si ibu, emang gak lewat situ. Kami harus ke terminal kalau mau naik bus antar kota.

Si pemuda menawari kami naik mobilnya. Dia menulis angka 1500 dram, pp. Not bad, pikir Emak. Lebih murah dari harga taksi resmi.

“Anda mau nunggu kami barang sejam, buat ngeliat-ngeliat gerejanya?”

Dia menulis 2000 dram, ongkos pp plus nunggu. Komunikasi kami dibantu ibu pemilik kios. Setelah diskusi dengan Bapak, kami ambil tawarannya. Si pemuda mengantar kami sampai di depan gerbang. Menunggu di seberang jalan sejam lamanya. Mobilnya agak tua. Mungkin tahun 1990-an. Dia menyetel pemanasnya ke level tertinggi. Kalau kepanasan, Emak buka jendela sedikit.

Pulangnya kami mikir, kenapa gak nanya aja sama dia, berapa tarifnya jika ke tempat lain. Besoknya kami ke Garni dan Geghard. Besoknya lagi ke danau Sevan. Tarifnya murah meriah. Lebih murah dibanding taksi dan tur. Ke Garni-Geghard dia minta 12 ribu dram. Ke danau Sevan 14 ribu. Gak enaknya, si mas ini selalu terlihat buru-buru. Jadi kami agak gak enak kalau mau berlama-lama eksplor suatu tempat. Kalau saja tidak ada kendala bahasa, mungkin kami bisa deal lebih banyak sama dia. Si Mas ini sepertinya tukang taksi tak resmi. Saat menjemput kami, dia suka menurunkan beberapa penumpang lainnya.

Makanan Halal Di Yerevan

Karena di hotel tersedia dapur, dan kami membawa beberapa alat masak sendiri, urusan perut kami selesaikan di hotel. Palingan belanja kebutuhan pokok di supermarket. Supermarket di sini tidak terlalu besar. Akan tetapi bahan makanan pokok yang kami inginkan tersedia. Ditambah lagi, kami sering menghabiskan waktu di hotel, akibat tak tahan dinginnya udara luar.

Halal food in Yerevan
Kebab Persia di Shah Pizza

Harga buah segar relatif mahal. Demikin pula dengan produk susu dan ikan laut. Tetap saja, kalau dibanding beli, masih lebih murah masak sendiri. Beras, pasta, ada. Beres lah. Paling sesekali beli pisang, serta acar mentimun agar bisa tetap makan sayuran.

Menurut info internet, ada beberapa resto makanan halal di Yerevan. Ada makanan India, Lebanon, serta Persia. Kami nyoba dua kali. Lebanon dan Persia. Yang pertama adalah Restoran Taboule, tak jauh dari hotel. Pelayanannya bagus, tempatnya cozy. Makanannya lumayan lah. Meski tak seenak Phoenicia, resto Lebanon di Sofia, Bulgaria. Yang lebih enak adalah Shah Pizza. Meski ada pizzanya, tempat ini menyediakan aneka makanan khas Persia. Emak tentu saja milih Joojeh. Tak lama ketika kami datang, datang pula dua bus rombongan turis asal Iran memenuhi tempat ini. Harganya lebih murah dibanding Taboule.

***

Sementara ini, sekian sekilas info tentang kondisi Armenia di musim dingin. Nantikan versi lebih lengkapnya, yah!

Baca juga: Pengalaman Naik Ukraina International 

5 Comments

  • Ahh cinta banget sama Armenia, orang2nya ramah dan sightseeing spotnya luar biasa keren2 banget settingnya.

    Duh dinginnya itu ya pas winter, tebel banget saljunya tp malah kece di foto, walaupun demikian pasti gak mengurangi keindahannya ya.
    Would love to return one day!

  • Trus jadinya sampeyan rela dingin dingin ke Armenia cuman ‘pingin’ dapat stempel di passport ? Sini mbak tk belikan stamp ready made *dibalangsalju.

    mau panas dingin, klo dah suka jalan jalan kemanapun enjoy ya mbak..yang penting Happy sekeluarga

  • ira

    @Jalan2Liburan: Enaknya lagi, gak crowded, yah. Apa karena kami datengnya musim dingin? Kalau hangat, mungkin lebih rame? Iyah, kami juga pengen ke sana lagi kalau ada kesempatan. Musim panas tapinya… hehe

    @Zulfa: hehehehe, nasib kolektor setempel, Mak. Yang penting pergi ke negara baru dan nambah setempel paspor, wes marem. Lainnya bonus. Setuju juga, asal sama keluarga happy2 aja. 😀

  • Kalau kesasar selain rugi waktu dan tenaga, juga bikin beku, karena kesasarnya di musim dingin haha.
    Aku sendiri kadang menikmati proses kesasarnya itu, jika jalannya sendiri, di tempat yang aku tahu aman, dan gak keburu waktu mau ke tempat lain. Kalau waktu mepet, mengkel juga hehe.

    Kebabnya agak beda bentuknya ya mbak.

  • ira

    @Cek Yan: Iyah, kalau kesasar di suhu minus 20 derajat takut jadi arca, Cek Yan. heheheh. Kadang2 emang kesasar membawa hikmah. Jadi tau tempat2 unik, out of tourist path. Iyah, kebab2 Persia atau Lebanon kebanyakan kayak gini.

Leave a Reply

%d bloggers like this: