Menyetir di Norwegia

Scenic road NorwayMeski punya kebiasaan mempersiapkan liburan jauh-jauh hari sebelumnya, ada kalanya Emak memutuskan tempat liburan last minute. Kayak liburan musim gugur ke Norwegia tahun 2016 lalu. Diputuskan ndak sampai seminggu sebelum berangkat. Padahal tak jarang Emak bikin planning suatu liburan sejak enam bulan sebelumnya.

Sebelum mengambil keputusan Emak sempat galau. Sudah lama mengincar suatu negara buat dijadikan destinasi. Bahkan beberapa bulan lalu ada tiket sesuai bujet buat destinasi tersebut. Karena gak langsung dibeli (bujet belum ada juga, mau mudik dulu), lepaslah tiket harga miring itu. Berharap ada tawaran lagi, adanya cuma di alam mimpi. Ada tiket agak miring, tapi kudu ngeteng, mampir ke negara lain, trus pindah bandara, naik maskapai lain. Kalau diitung-itung sama ongkos kesana-kemari, sama aja dengan tiket normal. Skip dulu lah.

Yo wes, kita liburan naik mobil ajah? Kemana? tanya Bapak. Pengennya ke negara yang belum pernah kami kunjungi. Atau ke negara yang sudah pernah dikunjungi, tapi punya objek-objek wisata incaran. Emak juga sebenernya pengen keliling Polandia. Tapi kok, masih belum sreg. Sehingga setelah menimbang-nimbang, menghitung-hitung biaya dan kemampuan, termasuk kemampuan fisik, deal: Norwegia!

Norwegia negeri Skandinavia terakhir yang belum keluarga pelancong kunjungi. Sebelumnya kami sudah nemplok sebentar di Denmark, Swedia, melewatkan suatu musim dingin banget di Finlandia, naik cruise ke Kepulauan Faroe dan Islandia. Tinggal Norwegia. Walau aslinya belum marem juga karena belum ke Greenland dan Spitzbergen. *aamiinkan ya sodara-sodaraku*.

Sebelum berangkat, Bapak mendapat tugas mempelajari sedikit tentang peraturan lalu lintas di Norwegia, Denmark dan Swedia. Sebab kami melewati tiga negara tersebut. Aturan-aturan dasar seperti semua pengendara wajib menyalakan waktu all the time. Kalau ketauan gak nyalain lampu dendanya lumayan. Trus disarankan pakai ban khusus musim dingin mulai 1 November sampai awal musim semi. Karena masih bulan Oktober, kami menggunakan ban all weather.

Jalanan antara Jerman utara, Denmark, dan pesisir barat Swedia relatif datar dan agak-agak membosankan. Pemandangannya padang-padang rumput luas Baru agak seru ketika menyeberang jembatan-jembatan panjang penghubung pulau-pulau di Denmark. Trus Jembatan Oresund Bridge antara Denmark dan Swedia yang sebagian merupakan terowongan bawah laut. Sebuah momen dalam sebuah perjalanan di mana Emak menyadari betapa agung dan hebatnya daya pikir manusia. Masuk Swedia, kami menyisir tepian laut di barat Swedia. Kota terbesar yang kami lewati adalah Goteborg. Sisanya, agak sunyi di jalan tol. Jalanan bagus, mulus. Sesekali aja kami berhenti, kalau sudah sama-sama lelah buat gantian menyetir.Masuk Norwegia, gak kerasa apa-apa. Ndak ada pemeriksaaan paspor atau apalah. Cuma ada penanda di jalan, bahwa kami sudah berada di negara berbeda.

Jalanan Norwegia

Kondisi jalan raya Norwegia juga bagus. Menghubungkan hingga lokasi-lokasi nyaris terpencil. Infrastruktur mahal. Sebagian dibayar oleh pemakai jalan seperti kami. Jalanannya ada yang gratis ada yang berbayar. Sistem bayarnya berbeda. Gak pakai vignette kayak Swiss, Austria, Slovenia, dan Republik Ceko. Bukan pula sistem mbayar lewat pintu tol laiknya Indonesia, Perancis, Italia, dan beberapa negara Balkan. Sistemnya udah otomatis. Ada kamera-kamera pengenal nomor pelat mobil di beberapa ruas jalan berbayar. Nanti setelah beberapa lama (beberapa bulan kemudian), akan muncul tagihan di pos kita. Untuk mempercepat proses pembayaran, kita bisa mendaftarkan nomor pelat mobil kita secara online sebelum memasuki Norwegia, atau maksimal 2 hari setelah masuk. Kami mendaftarkannya di hari kedua setelah sampai Norwegia. Entah bagaimana cara membayar tagihan penggunaan jalan kalau kita sewa mobil di sana.

bridge in norway
Konstruksi jembatan antar pulau

Dan gak hanya jalan tol yang berbayar di Norwegia. Masuk kota-kota besar pun kudu bayar. Kayak Oslo dan Bergen, kami bayar tarif menggunakan jalanan pusat kota mereka. Mbayarnya tiap kali masuk. Jadi kalau sehari bolak-balik keluar masuk pusat kota, mbayarnya juga bolak-balik. Pernah ada pengalaman ngeselin. Kami sudah keluar Oslo, eh salah jalan, dan ama navigator disuruh masuk lagi lewat jalanan di dalam Oslo, sehingga kami kudu mbayar lagi akibat salah jalan. #nyebelin

Selain beberapa ruas jalan tol, dan kota-kota ada lagi ruas jalan yang mbayar. Yakni rute-rute scenic yang banyak dilewati turis. Mbayarnya gak kenal waktu. Meski kita lewat tengah malem dan gak keliatan apa-apa pun tetep kudu mbayar. Asli kok, Norwegia ini salah satu negeri termahal yang pernah keluarga pelancong kunjungi. Gak cuma harga bahan bakar aja yang mahal (Norwegia salah satu negara yang bensinnya termahal, meski penghasil minyak kelas kakap). Tapi kalau dipikir, emang wajar seh kalau mahal. Mbangun sistem jalan hingga sampai pelosok, di negara yang cukup luas, punya banyak pulau dan fjord, sedang penduduknya dikit, gak bisa dibayar pakai daun, tho!

Peraturan Lalu Lintas Ketat

Negara ini ketat menjalankan peraturan lalu lintasnya. Polisinya rajin patroli. Kalau ketauan melanggar bayar dendanya bikin nangis. Beberapa peraturannya antara lain, wajib menyalakan lampu saat berkendara. Baik siang malam mau pun siang. Jangan main hape saat nyetir, jangan nerobos lampu merah, serta perhatikan aturan siapa yang harus didahulukan. Alkohol dalam darah gak boleh lebih dari 0,2 per mililiter. Satu lagi jangan parkir sembarangan. Sekali kami parkir agak mendekati belokan. Dipikir bakal gapapa karena pas wiken juga. Eh polisinya rajin. Kena deh denda hampir 60 euro. #nangesss.

Oh ya, seperti kebanyakan negara Eropa lainnya, pengguna jalan menggunakan lajur jalan sebelah kanan. Inggris, Malta, Siprus, pakai jalur kiri. Rambu-rambu jalan juga standar lah. Kecepatan maksimal sekitar 90-100 kmh di jalan tol. Kalau di dalam kota 50 kmh. Luar kota 80 kmh. Beberapa zona 30 kmh. Bapak polisi juga rajin patroli dan masang kamera detektor kecepatan. Sekali lagi, jika kena saat melanggar dendanya bisa beli tiket kemana gitu.

Ditunjang oleh Kapal Feri

ferry between islands in Norway
Di dalam tempat parkir dalam perut feri

Kondisi alam Norwegia, terutama di bagian barat yang punya banyak pulau kecil dan fjord, menyebabkan tak semuanya bisa terhubung dengan jalan raya. Ada yang jarak satu pulau ke pulau berikutnya relatif panjang. Akan sangat mahal dan makan waktu jika dibangun jalan. Sementara, jika kudu ambil jalan memutar, makan lebih banyak waktu dan energi bagi pengendara mobil. Untuk itu tersedia kapal-kapal feri untuk menjadi penghubung. Semacam tol laut, tapi jaraknya tak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam sekali jalan dengan feri. Ferinya tersedia 24 jam, dalam rentang waktu tertentu. Kami pun sempat menjajal dua feri dalam perjalanan dari Bergen menuju Stavanger.

Ferinya gak terlalu besar. Setidaknya gak sebesar feri antara Ketapang – Gilimanuk. Di feri ada pintu masuk dan keluar, jadi proses keluar masuknya kendaraan bisa lebih cepat. Di dek atas tersedia ruang tertutup lengkap dengan tempat duduk, toilet, televisi, ruang bermain anak, dan kios kecil menjual makanan dan minuman ringan serta barang kebutuhan lainnya. Ada pengumuman kalau ferinya udah mau mendarat. Orang-orang tertib mbalik ke mobil masing-masing.

Hati-Hati dengan Cuaca

Berada di belahan bumi utara, tentunya cuaca di negeri ini relatif dingin. Ketika kami di sana awal Oktober, cuaca bisa dibilang tidak merata. Di kota-kota besar yang berada di pesisir laut, suhu udaranya masih normal. Antara 10-15°C. Seperti suhu musim gugur di Jerman. Kadang berangin. Begitu kami berkendara melewati tempat lebih tinggi, suhunya langsung drop. Sudah dekat titik beku. Saat berkendara di malam hari, tiba-tiba jalanan terasa licin, sehingga kudu hati-hati. Sekali bahkan kami mengalami badai salju di musim gugur. Saat mendaki jalanan dari Stavanger ke arah Oslo, lewat dataran tinggi, tiba-tiba saja salju turun dengan derasnya.

Agak ke atas, ada mobil mogok di tengah jalan pas tanjakan. Kami dan beberapa mobil lainnya gak bisa lewat. Salju makin tebal. Udah siap-siap ajah mau bermalam di tengah badai salju. Di mobil, kami bawa selimut tebal dan bantal. Stok makanan minuman aman. Bapak keluar nyari info. Mobil yang mogok milik keluarga asal Finlandia. Menurut kabar, ada yang udah lapor ke petugas terkait dan mobil pembersih salju datang sejam dua jam lagi. Kami menunggu dan menunggu. Mobil mogok mundur pelan-pelan ke tempat lebih aman. Beberapa mobil maju dan lewat pelan-pelan. Sebagian pilih balik atau memutar. Baru beberapa puluh meter, eh mogok lagi di depan. Kata Bapak, ada mobil selip jatuh ke jurang. Gak terlalu dalam seh, tetep aja berasa serem. Gak lama, mobil pembersih salju datang, dan kami bisa lewat. Legaaaa…

***

Baca juga: Cruising North Atlantic

Baca juga: Kepulauan Faroe, Di Kesunyian Atlantik Utara

7 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: