Minsk Sekilas Info

Independence square MinskKeluarga pelancong sampai Minsk masih sekitar tengah hari. Setelah mengambil bagasi, kami menukar uang. Sebagian ngambil dari atm. Kurs-nya gak jauh beda. Bandara internasional Minsk gak terlalu besar, namun terlihat lumayan modern. Standar bandara-bandara Eropa masa kini. Kami pilih option termurah untuk sampai ke pusat kota. Bandara ini agak  jauh dari pusat kota. Sekitar satu jam-an naik bus kota. Tiketnya bisa dibeli di loket deket tempat mangkal bus. Atau beli langsung ke sopir busnya. Di pusat kota, kami turun di stasiun kereta api pusat. Dari situ tinggal jalan ke stasiun metro terdekat. Lalu beli tiket metro menuju penginapan yang jaraknya sekitar 7 kilometer dari pusat kota.

Emak agak-agak surprise melihat penampakan Minsk untuk pertama kalinya. Mikirnya, ah, paling gak jauh kayak Tblisi atau Yerevan, dua ibukota negara bekas Uni Sovyet lainnya. Yang masih terlihat seperti laiknya ibukota negara berkembang lainnya. Nyatanya, Minsk beda. Ia terlihat lebih moderen, bersih, dan teratur. Jalan rayanya lebar-lebar. Pun trotoar buat pejalan kaki. Sangat nyaman. Taman-tamannya luas dan sangat terawat. Sungai-sungainya bersih. Gak kalah lah sama kota-kota gede Eropa barat. Bisa dibilang, malah Minsk lebih bersih dibanding beberapa ibukota di Eropa Barat. Di sana-sini tempat umum, banyak penjaga. Termasuk di dalam stasiun-stasiun metro.

Getting around

Karena cuma ada di Minsk selama 4 hari, artinya kami punya waktu efektif jalan-jalan sekitar 2 hari-an. Hari pertama sampai siang hari. Abis perjalanan, masih pengen bobok cantik. Gak langsung keluar penginapan. Hari keempat sudha kudu terbang lagi. Kala itu, sebenarnya sudah mulai masuk musim semi. Akan tetapi, Minsk masih relatif dingin. Apalagi hari ketiga, angin kencang, dan kami jarang melihat matahari. Makanya kami putuskan fokus jelajah Minsk saja. Transportasi umum Minsk sudah sangat bagus. Mereka memiliki metro, bus, serta bus troli.

Akan tetapi, andalan kami ngiter-ngiter Minsk cuma metro. Mengapa? Karena cuma moda ini yang ada bahasa Inggrisnya. Sehingga bisa kami navigasi. Halte bus, tak ada nama haltenya. Busnya pun kami gak tahu rutenya. Karena semua tertulis dalam bahasa Rusia. Lha, membaca saja kami sulit, kakakkkk! Gimana dengan gps (gaul penduduk setempat)? Itu juga tak bisa berjalan baik. Susahhhhh sekali nyari orang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan anak mudanya gak bisa bahasa Inggris. Termasuk inggris paling mudah dan umum sekaligus. Kami ngobrol dengan pemilik apartemen sewaan, pakai google translate.

Moda angkutan metronya murah meriah, dan on time. Rutenya mudah diikuti. Mengkaver hampir semua objek wisata utama di dalam kota. Stasiun-stasiun metronya lumayan megah dan bagus. Sayangnya gak boleh motret atau mengambil video di dalam stasiunnya. Dan kalau kudu pindah jalur, jalannya lumayan jauh. Tiketnya bisa dibeli di loket-loket dalam stasiun. Loketnya buka selama metro beroperasi. Dan selalu ada petugas stand by di dekat tempat masuk, keluar, maupun dekat platform  kereta. Susah kalau mau cheating, masuk gak pakai tiket. Kalau lagi rush hours, sama aja, bejibun penumpangnya. Sampai masuk pun sulit. Saat turun, kita kudu tahu mau lewat pintu keluar yang mana. Kalau salah pintu keluar jalan muternya lumayan jauh.

Kalau jalan kaki, kami mengandalkan gmaps. Biasanya Emak screenshot dulu rute-rutenya saat berada di penginapan. Di keramaian Minsk banyak hotspot. Tapinya kudu masukin nomor hape dulu, dan mereka kirim kode verifikasi. Beberapa kali nyoba daftar pakai nomor hape Jerman, kode verifikasi gak pernah kami dapatkan. Di kafe-kafe baru bisa pakai wifi tanpa harus daftar dan verifikasi. Alhamdulillah, dengan bermodal screenshot rute, gak pakai kesasar selama di sana. Dan gak perlu nanya-nanya pakai bahasa tarzan yang kadang bikin kami agak senewen.

Penginapan

Keluarga pelancong hampir selalu pesan penginapan di situs andalan bookingdotcom. Di Minsk, ada beberapa hotel. Penduduk lokal banyak pula menawarkan apartemennya untuk disewa. Kami pilih sewa apartemen. Alasannya klasik sih. Selain biar bisa dapat space lebih luas buat berempat. Juga biar bisa masak. Jadi irit. Dan selama empat hari di Minsk, kami hampir-hampir gak beli makanan di luar. Masak terus di apartemen. Khusus apartemen di kota Minsk, pilihannyabanyak banget di bookingdotcom. Reviewnya bagus-bagus. Harga sewa per malamnya rata-rata 20 euro, atau gak sampai 350 ribu rupiah. Termasuk sangat murah buat ukuran Eropa.

Di dalam apartemen

Apartemen yang kami sewa bernama Comfort Arenda Minsk 3. Berada di distrik Zavodskoy. Di dalam sebuah kompelks permukiman berupa deretan apartemen. Sehingga setiap keluar masuk apartemen kami sempat memperhatikan beberapa aktivitas penduduk lokal. Seperti beberapa Bapak yang nongkrong sembari mabuk pagi-pagi. Atau anak-anak sekolah berangkat, serta para babushka berjalan dengan baju kebesarannya. Baju khas nenek-nenek di sana, lengkap dengan kudung tipis mirip jilbab pendek, kedua ujungnya diiket di bawah dagu. Koridor tempat masuk serta tangganya agak menyeramkan. Agak kotor serta kesannya tuwir banget bangunannya. Akan tetapi, di dalam apartemennya bersih dan rapi. Lumayan nyaman lah. Internet lumayan kenceng. Ada televisi layar lebar tapi model lama yang tebel banget.

Tempat ini cuma sekitar lima menit jalan kaki dari halte metro Partizanskaya. Di atas stasiun metro, terdapat sebuah hostel serta mall kecil. Di lantai dasar mall ada supermarket. Jualan bahan makanannya mayan lengkap. Buat kami ynag penting jual beras, susu, dan ikan kalengan buat nyambung hidup selama di Belarus. Di dapur, selain kompor, kulkas dan pemasak air elektrik, tersedia lengkap alat makan dan alat masak. Kami bawa sendiri juga dari rumah. Gak ketinggalan rice cooker mini andalan buat traveling. Di saat bepergian seperti ini, asupan makanan kudu cukup. Biar kuat jalan berkilo-kilometer menembus udara dingin menusuk hingga tulang.

Makanan Halal dan Masjid

halal food in Minsk
Kedai kebab halal di stasiun metro Partizanskaya

Sebelum berangkat Emak telah menggali informasi daring mengenai makanan halal dan masjid di Minsk. Informasi masjid ketemu. Makanan halal gak. Pas jalan di seputaran Minsk, mata Emak jelalatan, sapa tahu ada label halal di rumah makan. Nggak ada juga. Selama di sana kami sih hampir-hampir gak pernah makan di luar. Pernah ngafe ngopi ngeteh yang niatnya mau ngeliput ama numpang internetan doang. Eh, pas hari terakhir, duit udah menipis, dan kami mau balik ke bandara, ngeliat kedai kebab halal nyempil di antara kios-kios di atas halte metro Partizanskaya, yang cuma sepelemparan batu dari penginapan itu. Tapi yah, namanya belum rezeki, gimana lagi.

Grand mosque of Minsk alias masjid raya MInsk dijuluki Masjid Pink. Fasad luarnya emang pink kalem gitu. Masjidnya lumayan gede. Sayang imamnya yang orang Uzbekistan hampir gak bisa bahasa Inggris. Tapi beliaunya baik banget mengantarkan kami tur keliling masjid. Ke masjidnya kami naik metro, lanjut jalan kaki lumayan jauh. Ngelewati jembatan layang, yang jalan cumak kami berempat.

Cerita selanjutnya tentang objek-objek wisata Minsk yang keluarga pelancong kunjungi, inshaa Allah ditulis di artikel berikutnya. Stay tune, tiada kesan tanpa kehadiranmu di blog Emak. hehe.

***

Baca juga: Lima Hari bebas Visa Belarus 

Leave a Reply

%d bloggers like this: