Montenegro Revisited

Bekas ibukota Montenegro, CetinjeMelewati negara pegunungan hitam atau Montenegro di tepi Lautan Adriatik, dalam perjalanan menuju Albania, keluarga pelancong tak ingin sekadar lewat. Kesempatan berharga seperti ini harus dimanfaatkan sebaiknya. Meski sudah pernah kemari setahun lalu, kami belum selesai dengan Montenegro. Masih banyak tempat ingin kami sambangi. Emak pun masih terkenang-kenang akan keramahan pemilik Villa Dobrota yang kami inapi. Serta kecantikan unik negeri yang sebagian besar terdiri dari pegunungan ini.

Bagi Warga Negara Indonesia, ada kabar baru menyenangkan dari Montenegro. WNI pemilik visa Schengen bisa mengunjungi Montenegro 30 hari lamanya tanpa bikin visa lagi. Sebelumnya, kita hanya diberi kesempatan 7 hari setiap kali kunjungan. Buat Emak, ini berita keren. Karena kami harus keluar, lalu masuk Montenegero lagi, dalam selang waktu lebih dari 7 hari.

Kontur bergunung-gunung Montenegro sangat terasa saat kita menjelajahinya lewat jalur darat. Rasanya naik turun gunung mulu lewat jalan mengular khas pegunungan. Ngarai terdalam kedua di dunia, Ngarai Tara, terletak di negara ini. Dan, lima kali keluar masuk perbatasan Montenegro, hanya sekali perbatasannya tidak di atas gunung. Yakni ketika masuk Montenegro dari arah Dubrovnik ke Herceg Novi. Perbatasan lainnya yang pernah kami masuki adalah dua kali perbatasan Bosnia – Montenegro, sekali Montenegro – Albania, dan sekali Kosovo – Montenegro, semuanya ada di gunung. Seru juga naik turun gunung dulu untuk menyeberang suatu negara.

Secara umum, harga-harga di Montenegro lebih murah dibanding Kroasia. Misalnya saja harga penginapan serta makanan. Kalau harga transportasi, kami tidak tahu. Belum pernah nyoba menggunakan transportasi umum di sini.

Baca juga: Road Keluarga Pelancong di Semenanjung Balkan 

***

Keliling Montenegro
Memotret Kota Cattaro, Montenegro

Keluar dari Dubrovnik, hari sudah gelap. Sudah jelang pukul sepuluh malam. Kami belum ada rencana malam itu. Mau masuk camping ground lagi, kok males, sih. Bapak dan Emak memutuskan, langsung menuju perbatasan Kroasia – Montenegro. Nanti di Montenegro, liat-liat lagi, mau tidur di mobil atau bagaimana. Emak sangat bersemangat malam itu. Gak ngantuk sama sekali. Nemenin Bapak yang lagi nyetir. Di tempat tinggi di kejauhan kami melihat api sedang menyala. Sepertinya ada yang terbakar. Ternyata benar. Kebakaran terjadi di beberapa tempat di Kroasia mau pun Montenegro. Dan efek kebakaran ini kami rasakan. Jarak pandang terganggu. Mempengaruhi hasil foto panorama yang kami buat.

Urusan di perbatasan berlangsung cepat dan mudah. Meski antrian mobil ke arah Montenegro lumayan panjang. Pak petugas mengambil paspor kami berempat. Mengecek surat dan asuransi mobil, lalu dicap masuk deh. Alhamdulillah. Tak perlu menunggu sejam lebih seperti pengalaman pertama masuk Montenegro dulu. Kami setengah bengong. Bener nih udah kelar? Yay.. Kami pun kembali menjelajah Montenegro. Ketika dalam perjalanan pulang, yakni ketika kami masuk Montenegro dari Kosovo, semua juga berjalan dengan lancar. Hepi hepi hepi.

Hanya tiga harian kami habiskan di Montenegro. Tak banyak, sebab daftar kunjungan masih panjang. Senengnya, kami janjian dengan seorang warga Indonesia yang tinggal di Kotor, Gia. Waaa, jarang-jarang loh ketemu teman sekampung halaman di wilayah Adriatik. Selama di Kroasia, kami tiga kali ketemu muslimah jiran. Namun belum beruntung untuk bertemu turis asal Indonesia. Dua harian kami habiskan di Kotor, seharinya ikut Great Montenegro Tour yang direkomendasikan oleh Gia. Nanti Emak tulis secara khusus tentang tur satu ini. Spoilernya, turnya keren banget. Dari situ kami berkenalan dengan kekayaan sejarah dan alam yang jarang terekspos. Turnya highly recommended banget, deh.

Yang penasaran ama Great Montenegro Tour bisa intip-intip bentar di sini, yah:  Great Montenegro Tour 

Dibanding sekitar 5 tahunan lalu saat kami pertama kemari, banyak sekali perubahan Montenegro. Jalan-jalannya semakin lebar dan bagus. Ada beberapa bagian baru diperbaiki. Keluarga pelancong menyusuri tepian Adriatik Montenegro dari Herceg Novi, ke Kotor, lewat Tivat, Budva, Bar, sampai Ulcinj. Sebagian besar rute jalannya berada di pinggir laut. Sesekali kami berhenti untuk sekadar menikmati kecantikan laut dan gunung, kadang pula Emak rekam. Hampir setiap tempat di tepi laut dipenuhi turis.

Kejutan di Bar

Dari Kotor, kami sempat mencicipi cita rasa lokal di Donji Stoliv, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ulcinj, kota besar terakhir sebelum perbatasan Albania. Wilayah selatan Montenegro dekat Albania sebagian dihuni warga muslim. Ketika lewat kota Bar, Emak kepengen ngeliat Stara Maslina, akan tetapi belum tahu lokasi tepatnya.

“Kalau pas lewat kita mampir, kalau nggak, kita langsung ke Ulcinj,” kata Emak.

Islam di Montenegro, Muslim Montenegro
Masjid Bar, Montenegro

Sekitar pukul satu di kota Bar, kami melihat petunjuk arah ke sebuah Islamic center.

“Mampir, gak?”

“Hmmm…”

Setelah lewat beberapa ratus meter, “Mampir aja, yuk! Pengen tahu!”

Hari panas sekali. Kami parkir di bawah pepohonan zaitun. Masjid tersebut terlihat baru. Kompleksnya lumayan luas. Di bagian belakang dekat parkiran terdapat bangunan untuk wudu lelaki dna perempuan. Tempatnya sangat bersih dan wangi. handuk-handuk kering dan bersih tersedia di gantungan.

Tak lama, terdengar suara azan zuhur. Beberapa lelaki memasuki masjid. Bapak, Adik, Embak masuk masjid untuk salat berjamaah. Emak menunggu di luar, ngadem di bawah koridor. Cuaca hari itu lumayan bikin keringetan. Selesai sembahyang dan doa, Emak ngntip isi masjid.

“Dari atas bagus banget, Mi,” komentar Embak.

Emberrrr, duh bahagia banget rasanya bisa istirahat kemari. Kami pun mampir di cafe masjid. Ngisi perut sambil numpang internetan dan apdet status. Salah satu Mas waiter bisa bahasa Inggris. Internet kafe lumayan kenceng.

“Di sini adanya menu masakan Bosnia,” kata si Mas waiter.

“Tapi ada nasi, kan?” tanya Emak.

“Ada.”

Kami pesen salad, ayam dan daging. Dagingnya daging Cevapcici. Nasinya mirip nasi Turki. Enak semua. Perut kenyang, status udah diapdet, semua bahagia. Apalagi harga makanannya murah. Pas kami ngasih tips, eh sama Mas-nya dimasukin ke kotak sodaqoh masjid. Mashaa Allah. Di bagian depan deket gerbang masjid, Emak mampir di toko suvenirnya beli magnet bertema masjid Bar. Ternyata di sebelah kanan terdapat tempat parkir lebih besar dan dijadikan tempat istirahat oleh beberapa traveler. Ahhh, tau gitu kemarin numpang nginep di sini. hehe.

oldest olive tree Europe
Pohon zaitun tertua Eropa

Daannnn, kami juga mampir ke Stara Maslina, pohon zaitun tertua di Eropa. Gak jauh lokasinya dari masjid. Dikasih tau ama Mas waiter. Masuknya mbayar 1 euro (Rp. 15.000,-) Sepi, gak ada orang siang-siang itu. Emak bahagia deh hari itu. Meski akhirnya gak jadi eksplor Ulcinj, gegara sumpek banget pusat kotanya. Mau ke Solana liat flamingo, eh datengnya di musim yang salah. Flamingonya mah di musim dingin, di musim panas, mereka entah dimana.

***

Baca juga petualangan #KeluargaPelancong sebelumnya: Dubrovnik di Musim Panas

3 Comments

  • Alhamdulillah lancar imigrasinya ya mbak. Mungkin karena kedatangan kedua kali, ya?
    Masjidnya besar. Cakep! kayak masjid di Turki ya. Dan kaget juga tadi, ternyata Bar itu nama masjidnya hehehe

  • ira

    @Hastira: yup.. masjidnya modern, dengan sentuhan gaya Turki

    @CekYan: Yoi, mengangetkan cepet urursan imigrasinya. Beda ama pas masuk Kroasia. Udah keempat kalinya, tetep ajah lama urusannya… 🙂 Bar itu nama kotanya. Kemarin kita menciptakan tebak2an: Bar apa yang punya masjid? 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: