Seputaran Kuil Meiji Tokyo

Gerbang kuil meijiSeminggu berada di Tokyo, serta punya waktu efektif jalan-jalan selama 6 hari, tak banyak tempat Emak eksplor. Ditambah lagi jetlag di dua hari pertama, plus gempor di hari-hari berikutnya, memperlambat langkah Emak di ibukota negeri Sakura ini. Halte jauhnya nyaris sekilo meter. Belum lagi naik turun metro, sungguh menyita waktu dan tenaga. Dan penginapan kami ke destinasi-destinasi wisata utama kota aja, paling nggak memakan waktu setengah hingga sejam sekali jalan.

Sempat dua kali Emak berada di seputaran Kuil Meiji. Pertama, hari sudah agak sore. Dan kami salah turun halte metro. Rencana ke Kuil Meiji, kami malah turun di halte Yoyogi Koen. Mestinya ada halte lebih dekat, yakni Meijijingu-Mae. Kirain dari Yoyogi koen atau Taman Yoyogi dah deket, eh ternyata agak jauh, jalannya nanjak juga. Walau pun sebenernya Taman Yoyogi dan Kuil Meiji berada dalam satu kompleks. Pas nyampe gerbang Kuil Meiji, hari sudah sore. Dah hampir tutup. Ya sutra kita jalan-jalan di Harajuku sajah. Emak mengulang kunjungan keesokan harinya. Muter-muter ke beberapa tempat sampai kaki lumayan pegel.

Kuil Meiji dibangun untuk menghormati arwah Kaisar Meiji dan permaisurinya, Ratu Shoken. Dibangun sejak tahun 1920, delapan tahun sejak kematiankaisar dan 6 tahun sejak wafat istri beliau. Lahir tahun 1852, Kaisar Meiji merupakan kaisar pertama Jepang modern. Di pelajaran sejarah dulu, Emak berkenalan dengan frasa Restorasi Meiji. Di masa beliau Jepang mulai momodernisasi dirinya seperti negeri barat, bergabung dengan kekuatan besar dunia.

Kompleks Kuil Meiji memiliki beberapa bagian. Masuk ke dalamnya seperti masuk dalam hutan. Ademmm banget terasa di musim panas. Pohonnya jangkung-jangkung. Konon lebih 100 ribu pohon disumbangkan dari seluruh Jepang ketika kuil ini dibangun. Nyaris seabad kemudian, mereka berubah jadi hutan kota.

Ciri khas Kuil Meiji berupa dua gerbang kayu tinggi bernama Torii. Memasuki, berarti kita memasuki tempat suci secara simbolis.  Sedikit saja bagian kompleks kuil Emak tengok. Sebelumnya Emak sudah mencari informasi di dunia maya. Jadi Emak mendatangi yang Emak anggap paling menarik saja.

Inner Garden (Jingu Nai-en atau Gyoen)

Inner garden Kuil Meiji
Danau cantik di inner garden

Ketika membaca-baca informasi, Emak dapati bahwa saat itu sedang berlangsung irish festival di Inner Garden. Meski wilayah ini termasuk wilayah non-gratis, Emak masuki. Biaya masuknya 500 yen (sekitar Rp. 60.000,-).

Entah karena memang selalu ramai atau sebab pengaruh festival irish, hari itu saya masuk berbondong-bondong bersama banyak sekali tamu. Kebanyakan adalah warga lokal. Para senior. Datang bersama rombongannya masing-masing. Meski wajahnya sepuh, rata-rata masih kuat. Padahal memasuki inner garden ini jalannya lumayan naik turun, walau tidak terjal.

Selain ribuan bunga irish yang sedang mekar, daya tarik kolam ini, menurut Emak adalah sebuah kolam besar yang banyak ditumbuhi bunga lotus di pinggirnya. Bangku-bangku kayu tersebar di banyak tempat. Pun sesekali kita bisa menemukan gazebo kayu ala Jepang yang cakep.

Salah spot di ujung taman adalah mata air Kiyomasa, atau Kiyomasa’s well. Namanya berasal dari Kiyomasa Kato, seorang tokoh militer tahun 1500-an yang pernah tinggal di bagian taman ini. Mata airnya jernih banget. Pengunjung mengantri untuk mengambil dan meminum air mata air tersebut. Dipandu oleh seorang penjaga. Males ngantri, Emak cuma ngambil gambar dari jauh aja.

Bangunan Utama Kuil

Emak keluar inner garden dari pintu berbeda. Lebih dekat dengan kuil. Bangunan kuil besar berjarak kira-kira sepuluh menit dari torii. Bagian depannya sedang direnovasi. Untuk persiapan perayaan ulang tahun Kuil Meiji ke 100 pada tahun 2020. Kuil satu ini termasuk yang paling ramai di Jepang. Dikunjungi warga lokal mau pun turis. Apalagi kalau tahun baru. Ketika kuil dipadati hingga tiga juta pengunjung di awal tahun.

Baju pengantin jepang tradisional
Pengantin Jepang di Kuil Meiji

Menurut Tante Lia, di kuil ini, banyak orang menikah secara adat Jepang. Emak udah niat memburu foto mereka. Eh, bener juga, baru masuk bagian utama kuil, Emak udah spotted sepasang pengantin muda, mengenakan pakaian pernikahan khas Jepang. Tapi sepertinya, upacara adat mereka sudah selesai. Karena udah foto-foto. Gak lama kemudian, sepasang pengantin keluar dari sisi kuil. Mengikuti pendeta yang membaca doa-doa. Di belakang mereka berjalan tamu lainnya. Tak banyak. Pemandangan seperti ini, meski biasa, selalu jadi perhatian pengunjung kuil lainnya.

Kuil Meiji menurut Emak mirip ama kuil Jepang lainnya yang Emak kunjungi. Di dekat tempat masuk main building terdapat sebuah temizuya. Sebuah pavilyun air berisi wadah air bersih dan gayungnya yang terbuat dari bahan alami seperti kayu dan bambu. Di sini, pengunjung membersihkan tangan dan mulut sebelum memasuki kuil.

Di dalam kuil, para pengunjung lokal biasanya melakukan ritual yang biasa dilakukan di kuil-kuil Shinto. Seperti memberikan persembahan di altar, membeli jimat atau omikuji (fortune teller paper), serta menuliskan harapan di sebuah ema. Memberikan persembahan ada tata caranya. Emak perhatikan bagaimana mereka memasukkan koin ke dalam kotak persembahan, membungkuk dua kali, bertepuk tangan dua kali, diam sejenak, lalu membungkuk lagi. Itu mereka lakukan bersama atau sendiri-sendiri. Di gedung di mana terdapat main altar, pengunjung tak diperkenankan mengambil gambar.

Jimat dan tempat menulis harapan bisa dibeli di toko di depan main building. Harapan ditulis dalam sebuah papan kayu kecil. Lalu dipajang di dinding kayu. Ratusan atau ribuan harapan dipajang di sana. Dari berbagai macam bahasa. Bahasa Indonesia pun ada.

Minuman keras di jepang
Gentong sake pun bisa jadi pajangan unik

Keluar main building, Emak sempat mampir ke sebuah kafe sekaligus toko suvenir. Di luar ada ibu-ibu penjual teh hijau. Di sela-sela melayani pembeli, beliau membuat sampel minuman teh hijau di gelas-gelas mini. Emak sempat ngicip. Di luar bangunan kafe terdapat sebuah penangkap perhatian. Puluhan koleksi gentong sake. Dipajang berjajar hingga enam tingkat. Mereka disebut kazaridaru. Gentong-gentong tersebut adalah donasi dari berbagai produsen sake dari seluruh Jepang. Untuk kebutuhan acara khusus seperti festival.

Idealnya seh seharian, atau paling nggak setengah harian lah di kompleks kuil ini. Itu pun sudah lumayan gempor jalan-jalan di dalamnya. Bagian paling Emak suka ya, menyaksikan para pengantin Jepang dalam busana tradisional mereka. Suka banget ama kimono putih mereka. So beautiful!

3 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: