Trekking Seru di Pulau Padar

jaga kebersihan padarBanyak kegiatan seru kami lakukan selama dua hari berlayar di dalam kompleks maha luas Taman Nasional Komodo. Areal yang baik darat mau pun lautnya sama-sama memanjakan indera penglihatan kita. Salah satunya adalah trekking. Setidaknya tiga kali kami trekking di wilayah ini: di Pulau Kelor, di Loh Buaya, di Pulau Padar.

Yang disebut terakhir itu, medannya paling menantang. Dan paling sering muncul di foto-foto para traveler. Emak pertama kali melihat foto-foto Pulau padar di grup backpacker di sosial media. Keren sekali pemandangannya. Sangat instagrammable, menurut istilah kekinian. Dan Pulau Padar ini sepertinya sudah jadi destinasi semi wajib bagi para traveler pengunjung Taman Nasional Komodo. Emak sering menemuinya di berbagai blog bertema traveling.

Sewaktu mau keliling Taman Nasional Komodo naik kapal kayu selama dua hari, Emak tidak ikut menyusun itinerary. Semuanya yang menentukan Pak Ahyar, kapten kapal yang kami sewa. Kami mengunjungi Pulau Kelor, Loh Buaya, sempat berenang di tengah laut, Pulau Padar, Kanawa beach, dan Pulau Bidadari. Semuanya gak ada yang mengecewakan.

Sayangnya belum ada kendaraan umum menuju Pulau Padar. Pengunjung pulau ini rata-rata adalah mereka yang ikut tur atau sewa kapal sendiri. Tur dengan kapal laut di perairan ini bisa kita temukan dengan mudah di Labuan Bajo. Tepatnya di jalan utama Sukarno – Hatta. Banyak sekali operator menawarkan tur dengan destinasi-destinasi tertentu.

Pulau Padar sendiri merupakan pulau ketiga terbesar di wilayah ini. Setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Katanya ada komodo juga di pulau ini. Namun pastinya bukan di daerah kami trekking. Sebab tak terlihat seorang ranger pun di sana. Tanda tempatnya aman dikunjungi.

Mendaki Pulau Padar

trekking taman nasional komodo
Cakep kan, pemandangannya!

Rombongan kami sampai di Pulau Padar di hari kedua. Pagi-pagi kira-kira pukul 7, kapal kami sudah mulai merapat ke pantai. kalau mau melihat sunrise harusnya seh berangkat lebih pagi lagi. Dan sebaliknya, jika ingin menikmati sunset, mulai mendakinya di sore hari. Pukul 7-an pagi di bulan Juli, hari mulai terasa panas.

Pelan-pelan kami mendaki. Waktu itu di tanjakan pertama belum ada tangga kayunya. Serta tak ada pegangan. Bahaya banget.  Meski gak musim hujan, jalanan lumayan licin, sebab kemiringannya lumayan terjal. Ditambah lagi kondisi jalanan berupa tanah campur batuan. Sebagian ikut longsor ketika terinjak kaki. Akan tetapi, menurut kabar terakhir, dikuatkan dengan bukti berupa foto dari seorang sohib Emak, ada tangga kayu untuk membantu para pendaki.

Baru mendaki etape pertama aja Emak udah gemobyos, alias mandi keringat. Di tengah-tengah tanjakan pertama berhenti, gak berani noleh ke belakang. Pasti bakal gamang dan kepala nyut-nyutan. mending ngeliat ke atas ajah.

Etape pertama berlalu, lanjut etape-etape berikutnya. Tanjakan di padang savannanya tak terlalu terjal. Alan tetapi lumayan panjang. Dan gak ada pephononan sama sekali. Kalau capek di tengah jalan, tak ada tempat untuk berteduh. tempat berteduh ada di bawah batu besar. akan tetapi begitu siang, bayangan berpindah arah. Sehingga nyaris gak ada tempat berteduh sama sekali.

Sail Komodo
Pemandangan cantik Taman Nasional Komodo

Terberat di rute-rute berbatu kira-kira tiga perempat perjalanan dari puncak Bukit Padar. Jadi alam Pulau padar yang dijadikan jalur trekking ini, tempatnya berupa deretan perbukitan. Dengan beberapa puncak. Bukit-bukit tersebut sedikit ditumbuhi pohon. Lebih mirip bukit savanna. Di musim panas, terlihat agak gerbang. Di musim penghujan, warna rerumputannya hijau segar.

Menurut pengalaman traveler-traveler sebelumnya, untuk bisa mencapai salah satu puncak Bukit padar, kita kudu mendaki kira-kira 45 menit sampai 1 jam #ayotrekking. Kalau Emak, lebih deh kayaknya. Banyak berhentinya. Jantung berdetak jauh lebih cepat. Oksigen cepat habis, Emak sering serasa keabisan napas. #capedeh Tapi kok rugi ngerasanya, udah ngos-ngosan tapi gak sampai tujuan. 

Bapak dan anak-anak sudah sampai atas duluan. Jika melewati jalanan berbatu, malah kudu ekstra hati-hati. Ada pijakan batu, tapi malah lebih licin, sebab sudah sering dilewati orang. Seperti batu yang sering dipoles.

Sebenernya capek-capek mendaki Bukit Padar demi apa sih sodara-sodara? Demi panorama indah mestinya, yah. Kalau dari atas Pulau padar, panoramanya berupa teluk-teluk kecil di pinggiran pulau. Tiap teluk kecil berbentuk cekungan yang di pinggirnya memiliki pasir putih. Pantai-pantai cekung tersebut tidak bersambungan. mereka dibatasi tebing-tebing batu. emang wow banget lah pamandangannya. Sukaaa. Alhamdulillah kami dapat cuaca cerah. Bisa memandang pulau-pulau kecil lainnya sampai ufuk.

Puncak Bukit Padar
Kecantikan memukau dari puncak bukit Padar

Dan pantai-pantai tersebut kosong. Duhhh menggugah selera banget. Di wilayah perairan Taman Nasional Komodo, pantai kosong mah gak keitung jumlahnya. Tinggal pilih. Asal bisa nyewa kapal mah, bisa didatangi satu per satu. Dan kalau ke pantai seperti ini, jangan lupa bawa kembali sampah-sampah yang kita hasilkan, ya! Emak sedih deh saat melihat botol plastik bertebaran di laut. Tak hanya bikin sepet mata, ada benda-benda asing mengapung di air laut yang bening. Lebih sedih lagi melihat deretan sampah di Pulau Padar. Sayang sekali pemandangan indah seperti ini harus dikotori sampah. Khawatir juga sampah-sampah ini bakal mempengaruhi ekosistem alut kita, gaes. #emaksokbijak

Gak rugi kok mendaki kemari. Buat Emak sekalian olah raga ngeluruhin lemak di badan. Kalau sebelumnya udah latihan dan jaga stamina dulu, malah lebih bagus lagi. Oh ya, kalau bisa pakai sepatu memadai. Mengurangi risiko kaki lecet. Dan kalau sepatunya yang solnya khusus, malah jadi kuat pijakannya, gak gampang selip.

Pas kami ke sana, pengunjung Padar gak terlalu banyak seh. Kapalnya yang buang jangkar dekat pantai juga gak sampai sepuluh biji. Salah satunya kapal punya salah satu konglomerat Indonesia. Kapal layar besar. Nyaman dan mewah tampaknya.

Saat itu paling ada puluhan turis saja. Kebanyakan turis lokal. Turis asingnya ada tapi jumpa sekelebat. Mereka jalannya kayak di jalan datar. Cepet.

Yuk gaes, kita nikmati kecantikan tanah air kita! #VisitKomodo #TamanNasionalKomodo #PulauPadar #WonderfulIndonesia

9 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: