Wakaf Gazi Husrev Bey di Sarajevo

wisata religi di bosnia
Sholat jamaah di Masjid Bey

Sarajevo, ibukota negara Bosnia – Herzegovina, merupakan tempat pertemuan budaya timur dan barat di Eropa. Sebuah kota di Eropa dengan nuansa Islam kental.

Berjalan-jalan di Bascarsija, kota tua sekaligus jantung Sarajevo, kita akan merasakan suasana Eropa yang berbeda. Suara azan akan berkumandang, bersahutan, lima kali sehari. Menyemarakkan suasana Bascarsija yang tak banyak berubah sejak ratusan silam. Ketika Turki Usmani masih menjadi penguasa negeri ini.

Sarajevo mulai berkembang ketika Turki menjadikannya salah satu propinsinya. Gazi Husrev Bey, merupakan salah satu gubernur terkemuka, sekaligus tokoh penting dalam sejarah Bosnia. Beliau lahir di Serres, di Yunani sekarang. Di akhir abad 15 masehi.

Gazi Husrev Bey (1480 – 1541) berayahkan Ferhad Bey, seorang Bosnia. Sedangkan ibunya seorang putri Usmani, Seljuka. Yang juga merupakan seorang putri dari Sultan Bayezid II.  Sehingga Gazi Husrev Bey merupakan seorang cucu Sultan Turki.

Dua puluh tahun beliau menjadi gubernur Bosnia. Antara tahun 1521 – 1541. Semasa pemerintahannya tersebut, beliau mendedikasikan waktunya  untuk membangun Sarajevo. Mewakafkan kekayaan pribadinya untuk membangun berbagai prasarana umum. Berupa madrasah, masjid, perpustakaan. Yang sebagian besar masih bisa kita bentuknya saksikan hingga kini. Menjadikan kota Sarajevo salah satu pusat perdagangan, kerajinan, budaya, pendidikan, serta militer terbesar di Semenanjung Balkan.

Untuk menguatkan posisi wakaf ini, Gazi Husrev menulis tiga testamen. Masing-masing ditulis November 1531, Januari 1537, dan November 1537. Testamen pertama tentang wakaf masjid, imare (dapur umum bagi kaum papa), serta haniqah (sekolah sufi).

Testamen kedua berisi tentang wakaf Madrasah Kurshumli. Sisa dana pembangunan madrasah, digunakan untuk membeli buku-buku terbaik di zaman tersebut. Sedangkan testamen terakhir didedikasikan untuk pemeliharaan masjid.

Ketiga testamen tersebut telah menjadi dasar terbentuknya Lembaga Wakaf Gazi Husrev Bey hingga kini. Saat testamen ditulis, setiap kegiatan dan pekerjaan yang berhubungan dnegan lembaga wakaf telah dijabarkan secara lengkap.

Lembaga wakaf inilah yang merawat peninggalan luar biasa dari Gazi Husrev Bey hingga manfaatnya masih bisa dirasakan generasi sekarang di Sarajevo. Walau berkali bangunan-bangunan wakaf ini sempat rusak, terbakar, dan hancur oleh perang, setiap kali itu juga berhasil direnovasi kembali.

Gazi Husrev Bey wafat pada tahun 1541. Beliau dimakamkan di sebuah Turbe. Sebuah mausoleum tertutup dan memiliki kubah di bagian atasnya. Turbe tersebut terletak di belakang Masjid Bey. Banyak pengunjung berdoa di dekat pintu Turbe.

Masjid Bey

Salah satu masjid terbesar dan terindah di Balkan ini, sekaligus menjadi salah satu ikon kota Sarajevo. Tak hanya pengunjung muslim, banyak turis asing datang kemari untuk mengenal sejarah serta keindahannya.

Masjid Gazi Husrev Bey atau lebih dikenal sebagai Masjid Bey, berada di pusat Bascarsija.  Di antara ratusan kios para pengrajin dan pedagang pasar. Di seberang menara jam dan bekas penginapan musafir. Kompleks Masjid Bey tidak terlalu luas. Pagar tembok membatasinya dari wilayah pasar.

islam di bosnia
Makam Gazi Husrev Bey

Menempel satu sisi tembok adalah tempat wudu. Para pria juga bisa wudu di Sardivan. Sebuah bangunan mirip sebuah gazebo beratap kayu. Di sana terdapat pancuran terbuka dan tempat duduk sederhana. Agar orang bisa wudu dengan santai. Sardivan termasuk bangunan wakaf.

Dua kali ke Sarajevo, selalu saja kami lakukan di musim dingin. Ketika udara mendekati titik beku, masih saja terlihat orang wudu di Sardivan yang airnya sedingin es. Bahkan ketika hari Jumat, jamaah masjid rela duduk dan sembahyang di luar di tengah suhu udara yang dingin menusuk tulang.

Masjid Bey mulai dibangun pada tahun 938 hijriah. Atau sekitar 1530/1531 masehi. Pintu masuk utama masjid terbuat dari kayu tebal berhiaskan marmer berukir, kaligrafi dan lukisan dinding. Bentuk masjid ini mirip dengan masjid-masjid Turki lainnya. Yang tembok  utamanya terbuat dari batu bata dan bagian luarnya tidak diplester. Menaranya tinggi dan ramping. Di depan pintu gerbang terdapat deretan rak kayu untuk menyimpan sepatu.

Interior masjid tampak sederhana, namun elegan dan lapang. Tembok bagian dalamnya berwarna putih. Mihrab dan mimbarnya terbuat dari marmer. Lampu-lampu gantung berwarna keemasan ikut mempercantik isi masjid. Tempat sembahyang wanita terletak di sisi kiri. Masuk lewat pintu yang berbeda. Di luar bangunan masjid terdapat makam-makam mantan petinggi dan orang penting di Sarajevo.

Madrasah, Perpustakaan, dan Museum Gazi Husrev Bey

Hanya beberapa meter di depan Masjid Bey, akan kita temukan satu institusi pendidikan penting Sarajevo. Sebuah madrasah yang berdiri di tahun 1537, tahun ditulisnya testamen kedua dan ketiga dari Gazi Husrev Bey.

Pintu masuk madrasah

Madrasah tersebut masih berfungsi hingga kini. Selain menjadi tempat belajar agama, institusi pendidikan tertua di Bosnia ini juga menjadi tempat belajar seni dann ilmu pengetahuan. Ribuan, imam, khatib, filsuf Bosnia lulus dari sini.

Gerbang masuk Madrasah Kurshumli hanya berjarak beberapa meter dari gerbang Masjid Bey. Di  waktu-waktu sembahyang, banyak pelajar madrasah ikut sembahyang berjamaah di Masjid Bey.

Tak ada larangan memasuki areal madrasah. Akan tetapi saya hanya melihat-lihat bagian luar gedung. Di bagian depan, terdapat sebuah memorial. Berisi nama-nama para imam dan tokoh yang meninggal ketika Perang Bosnia berlangsung.

Berada satu kompleks dengan madrasah adalah Gedung Museum Bey dan perpustakaan. Dalam testamennya, Gazi Husrev Bey menyatakan bahwa sisa dana pembangunan madrasah, digunakan untuk membeli buku-buku. Buku-buku terbaik di zaman itu, untuk dibaca para pelajar madrasah.

Lokasi perpustakaan sempat berpindah. Setelah renovasi pada tahun 2014, lokasinya pindah ke lokasi semula. Menempati sebuah gedung yang modern di Jalan Gazi Husrev Bey 46.  Bagian depannya terbuat dari kaca.

Koleksi perpustakaan Gazi Husrev Bey sekarang mencakup 100 ribu unit. Meliputi manuskrip, buku-buku cetak, majalah, dan bermacam arsip dokumen. Ditulis dalam bahasa Arab, Persia, Bosnia, dan bahasa Eropa lainnya.

Ketika Perang Bosnia terjadi, koleksi perpustakaan ini terjaga. Sebab isi perpustakaan dipindah ke tempat rahasia. Bahkan sempat dipindah beberapa kali.

Suasana Sarajevo di zaman Turki Usmani, serta informasi lebih mendalam mengenai Gazi Husrev Bey dapat kita ketahui dari Museum Bey. Terletak antara gedung perpustakaan dan madrasah. Gedung kuno yang dahulu merupakan bagian dari madrasah. Tiket masuknya 3 Bosnian Mark (Rp. 23.000,-).

Isi museum terbagi dalam 8 ruangan yang berbentuk segi empat dengan halaman terbuka di bagian tengahnya. Di dalamnya dipamerkan arsip-arsip tua, kaligrafi kuno, serta karpet-karpet tua. Pun beberapa pejabat Turki Usmani di Sarajevo, serta foto-foto tua yang menggambarkan alumni madrasah Gazi Husrev Bey.

Apa yang dicapai dan ditinggalkan Gazi Husrev Bey buat Sarajevo dan Bosnia ini sungguh mengagumkan. Merangsang pertumbuhan ekonomi dan spiritual Sarajevo berabad lamanya. Hingga kini.

***

Baca juga cerita pengalaman keluarga pelancong di Sarajevo:

Destinasi Wisata Utama Sarajevo 

Terowongan Penyelamat Ratusan Ribu Nyawa di Sarajevo 

Mengenang Peristiwa Pembunuhan Franz Ferdinanz di Sarajevo

 

One Comment

  • Baru tahu masjid Bey ini salah satu masjid terbesar dan terindah di Balkan, madrasah tua dibangun abad 15 dan masih dipakai? Klo di India sudah kosong melompong, sebagai museum atau sebagai tempat wisata saja.

Leave a Reply

%d bloggers like this: