Wisata Belanja Tokyo

Meriah suasana Akihabara

Aslinya seh Emak ndak belanja banyak selama di Tokyo. Bujet terbatas, dan apa-apa terasa mahal di sana. Padahal udah ngirit makan dengan masak nasi sendiri di penginapan. Yang Emak banyak lakukan adalah berkeliling ke beberapa tempat belanja. Alias banyakan cuci matanya. Menurut sebuah situs, Tokyo ini seperti sebuah kota besar yang terdiri dari banyak kota. Pusat keramaiannya gak di satu tempat. Melainkan banyak. Hampir di setiap tempat selalu penuh pengunjung. Warga lokal maupun turis.

Di antara banyak pusat keramaian tersedut tidak terlalu banyak yang Emak sambangi. Yah, tenaganya gak sebanding dengan keinginan. Pengennya memaksimalkan kunjungan ke Tokyo. Tapi sebab jet lag dan tepat jalan kaki, naik turun tangga kesana kemari, keinginan tersebut harus dikubur hingga inti bumi. Maunya pagi-pagi udah capcus, eh, tenaga baru agak ngumpul jelang tengah hari. Pernah juga jam dua siang Emak baru keluar penginapan. Abis subuhan bubuk lagi. Biarin deh, dari pada pengsan di jalan, malah bikin repot banyak orang.

Dan yang sedikit tempat tersebut, Emak pengen ceritain pengalaman ketika mengunjunginya. Kali-kali aja ada manfaatnya buat pemirsah. Tsahhhhh. Oh ya, banyak department store Tokyo memberikan diskon khusus bagi para turis. Siapkan paspor saat belanja. Untuk pembelian dengan nilai tertentu ada diskon langsung buat turis. Syaratnya dnegan menunjukkan apspor. Selain itu, kita bisa belanja bebas pajak. Pajaknya kembali beberapa persen, dan langsung diurus di department store bersangkutan. Prosesnya mudah dan cepat.

***

Nakamise Shopping Street, Asakusa

Emak tiga kali ke tempat ini. Sekali bersama teman seperjalanan, Dua kali sendirian. Asakusa salah satu tempat favorit para turis. Makanya termasuk ramai dikunjungi. Berbagai atraksi bisa kita temukan di wilayah ini. Pertama ke sana, kami jalan kaki dari Masjid As Salaam. Masuk lewat salah satu gerbang kuno yang sedang direnovasi. Langsung ke arah Jalan Nakamise yang sangat ramai.

Aneka manisan green tea di Jalan Nakamise-dori

Jalan Nakamise-dori adalah salah satu shopping street tertua Tokyo. Serta menjadi salah satu jalan utama ramai di Zaman Edo Jepang. Jalan ini memiliki 90-an toko beratap tradisional. Panjangnya sekitar 250 meter dan berujung di gerbang Kuil terkenal Senshoji di Asakusa. Karena keunikannya arsitekturnya, dan berada di dekat atraksi utama Tokyo ini, jalan ini sangat ramai dan populer di kalangan turis. Apalagi toko-tokonya menjual aneka pernak-pernik dan cinderamata.

Magnet kulkas, gantungan kunci, baju-baju tradisional, baju kaos, kipas, lampion, mainan, asesoris, adalah beberapa barang oleh-oleh yang bisa kita temukan di sini. Beberapa toko menjual camilan dan makanan tradisional seperti rice cake. Ada pula cake berbentuk ikan halal yang dijual di jalan ini. Cuma Emak lupa, yang maka tokonya. Sekadar jalan-jalan aja sambil cuci mata di daerah, Emak sudah seneng banget. Suka sekali sama atmosfernya yang penuh keceriaan.

Di sekitar Jalan Nakamise-dori terdapat pertokoan dengan bangunan lebih besar dan moderen. Jualannya lebih beragam lagi. Seperti alat rumah tangga dan elektronik. Tokonya panjang berderet-deret. Ada ynag berbentuk gedung berlantai banyak. Mau ngeliat-ngeliat aja butuh waktu berhari-hari kayaknya.

Tempat ini bisa dicapai dengan subway dan kereta api. Subway Asakusa Line atau Ginza Line, haltenya Asakusa. Kereta api, Isesaki Line, halte pemberhentian Asakusa.

Kappabashi-dori Street

Ini shopping street favorit Emak selama di Tokyo. Satu tempat unik, gak ada duanya. Selama traveling ke beberapa negara, baru kali ini Emak nemu shopping street khusus seperti ini. Jalan Kappabashi-dori dikenal sebagai kitchen town. Karena wilayah ini, toko-tokonya menjual aneka rupa barang yang berhubungan dengan dapur dan penyajian makanan, tapi gak jualan makanan segar.

Keramik cantik kitchen town, Tokyo

Emak nemu informasi tentang kitchen town ini ketika mencari info tentang tempat membeli peralatan bento, bekal ala Jepang. Well, peralatan bento sebenarnya mudah sekali dicari di department store, hingga toko buku. Akan tetapi, mendengar nama kitchen, Emak pun penasaran dibuatnya. Pertama kali ke sana, sudah kesorean. ternyata banyak toko udah tutup sekitar jam 5. Emak ke sana lagi di hari Sabtu. Tidak semua toko buka, tapi lumayan lah. Bisa puas-puas cuci mata menyaksikan rupa-rupa perlengkapan dapur di Jepang. Oh ya, katanya hari Minggu tokonya  banyak yang tutup, meski tak semua. Berbeda dengan Jalan Nakamise-dori, pengunjung Kappabashi-dori lebih banyak warga lokalnya dibanding turis.

Emak masuk kitchen town lewat halte subway Tawaramachi, naik Ginza Line. Dari halte, jalan kaki kira-kira 5 – 7 menit. Kitchen town ini lokasinya antara Asakusa dan Taman Ueno. Kappabashi-dori memiliki jalan utama yang panjangnya gak sampai 1 kilometer. Dari jalan utama, terdapat jalan-jalan lebih kecil yang juga memiliki toko-toko perlengkapan dapur. Di kompleks luas berisi ratusan toko besar kecil ini kita bisa menemukan peralatan makan seperti sendok, garpu, piring, gelas dari keramik, plastik, kayu. Peralatan dapur rumahan kayak panci, wajan, sutil. Pun kompor, oven, kulkas, skala rumah tangga sampai skala orang jualan.

Sebuah toko menjual barang-barang khusus yang berhubungan dengan pembuatan kopi. Banyak toko khusus jualan pisau. Harganya yang berjut-jut bikin kapala nyut-nyut. Tapi emang keliatan kualitasnya bagus bener. Banyak toko menjual barang-barang display dari plastik. Banyak rumah makan Jepang memang membuat display makanan mereka dari plastik. Ada toko perlengkapan kue, serta wadah-wadah kue, ada pula yang khusus menjual mebel rumah makan, atau toko khusus baju chef. Lengkap banget deh. Kayaknya Emak bakal betah seharian di sini.

Harajuku

Harajuku merupakan area disekitar stasiun Harajuku. Berada di antara Shibuya dan Shinjuku. Kalau denger namanya, pasti banyak yang langsung inget Harajuku style. Dan emang, daerah ini merupakan salah satu pusat mode Tokyo. Pengunjungnya kebanyakan anak muda. Turisnya juga ombyokan, sih.

Harajuku jelang sore hari

Emak pun dua kali ke Harajuku. Pertama bersama teman-teman seperjalanan, kedua sendirian. Tujuan utama kami kemari sebenarnya bukan untuk menikmati Harajuku style, melainkan mau ke Daiso terbesar di Tokyo yang ada di kawasan ini. Daisonya terdiri dari beberapa lantai. Dan sangat ramai oleh turis. Sampai mau bayar antrinya panjang. Daiso adalah salah satu toko barang-barang 100 yen. Meski gak semua harganya segitu, ada yang lebih mahal. Oh ya, 100 yen itu harga sebelum pajak, yah. Kalau gak salah waktu Emak di sana, harga per item jadi 109 yen.

Jualan Daiso macem-macem. Mulai makanan, minuman, kosmetika, alat tulis, alat-alat dapur, dan sebagainya. Desainnya khas Jepang, unyu-unyu. Barangnya banyak ynag diimpor dari Tiongkok. Tapi Emak dapat beberapa pernak-pernik bento dengan harga murah di sini. Selain beli alat tulis, bungkus plastik, serta wadah bento, Emak juga beli matcha bubuk. Murah meriah. Emak banyak bertemu turis Indonesia yang beli oleh-oleh di Daiso ini.

Kelar belanja di Daiso, Emak jalan-jalan bentar di jalanan utamanya. Menyaksikan anak muda Jepang mengekspresikan disrinya lewat Harajuku style, rambut dicat warna-warna neon, pakai payung meski gak ada hujan atau panas, sepatunya tebal kayak bakiak yang bisa dipakai ngelempar maling. Banyak toko baju di sini. Tapi banyakan harganya bikin kantong Emak mengkeret. Sempat naksir outer model kimono yang cakep, tapi Emak belum sanggup berpisah dengan duitnya.

Shibuya

Kami ke sini setelah janjian dengan kenalannya teman seperjalanan. Janjiannya di dekat Patung Hachiko yang sangat populer itu. Maka pergilan kami bersama-sama ke arah stasiun Shibuya. Baru keluar stasiun udah kerasa banget ramenya. Shibuya merupakan salah satu pusat shopping dan entertainment teramai di Tokyo. Selain Hachiko, ia terkenal dengan Shibuya Crossing-nya.

Soba plus tempura Shibuya. Endeusss.

Gak pakai lama, kami sudah bertemu dengan yang bersangkutan. Foto-foto dong dekat PatunG hachiko, lalu nyebrang lewat Shibuya Crossing bersama ratusan orang dari sisi jalan berbeda. Katanya spot paling asyik buat nge-syut Shibuya Crossing ini adalah lewat sebuah kedai kopi terkenal yang berada di lantai atas sebuah gedung di satu pojokan crossing. Modalnya cuma beli kopi, tapi kudu siap-siap berbagai tempat dengan pelanggan lainnya. Emak sudah puas dengan motret dan ngesyut sebentar sambil jalan. Yang menarik, gedung-gedung sekitar crossing itu punya display iklan yang guede-guede. Emak bayangin, kalau malam, tempat ini pasti sangat semarak oleh cahaya lampu warna-warni.

Kami masuk ke sebuah department store. Beli beberapa perlengkapan bento. Ow, di sini banyak department store gede-gede. Semacam Tokyu dan Seibu. Shibuya juga merupakan salah satu pusat fashion Tokyo. Gak lama, kami ditraktir makan udon tempura di satu kedai. Aihhhh, enyakkkk.

Pusat Games, Elektronik, Manga, dan Anime, Akihabara

Emak blusukan ke tempat ini tujuannya buat beli copic marker. Marker pewarna yang sering digunakan anak-anak di rumah. Di Jerman, harganya per bijinya hampir 4 euro (sekitar Rp. 64.000,-). Kabarnya di Jepang lebih murah, makanya Emak pengen beliin.

Pemandangan umum di Akihabara

Nama Akihabara atau dikenal pula dengan Akiba, berasal dari nama sebuah kuil ynag berada di daerah tersebut. Belakangan ini, ia dikenal sebagai pusat budaya Jepang oleh para otaku (fans garis keras). Emak datang kemari lewat halte subway Akihabara. Abis itu jalan kaki gak terlalu lama. Sampai sini, plonga-plongo lagi. Serasa masuk ke dunia lain. Layar lebar di mana-mana. Menampilkan berbagai tokoh anime dan iklan. Gedungnya pun tinggi-tinggi.

Baru masuk wilayah ini, Emak liat seorang mbak-mbak cantik berkostum maid membagikan brosur. Dan pemandangan seperti ini akan sering kita temukan semakin kita masuk menjelajahi Akihabara. Sebab di sini banyak terdapat maid cafe, themed-restaurants yang waitress-nya berkostum maids, dan pelanggannya disebut masters. Maid cafe pertama di dunia berdiri di Akihabara tahun 2001. Sekarang, cafe seperti ini sudah bisa kita temukan tak hanya di jepang. Melainkan pula di China, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Australia, hingga belahan bumi barat.

Selama beberapa jam di Akihabara, Emak naik turun beberapa department store, seperti Sofmap Radio Kaikan, dan Don Quijote. Banyak department store mengkhususkan diri menjual produk-produk elektronika, gaming, manga, serta anime. Ada yang jualan kostum cosplay, replika tokoh-tokoh manga dan anime (figurines), handphone, smartphone, serta toko buku khusus manga. Tokonya ada ynag berupa kios kecil saja. Ada pula yang jualan game serta gadget bekas dari zaman baheula. Buat kolektor kali, yah.

Setelah naik turun toko, Emak malah gak nemu  copic marker. Malah beli beberapa peralatan bento lagi. Duhhh, kudu nyari di tempat laen, neh. Oh ya, Emak juga sempat lewat depan Cafe AKAB48. Dari luar gak terlalu rame, ada beberapa foto anggotanya dipajang. Cafe ini sebelahan sama Cafe Gundam. berhubung Emak bukan penggemar Gundam, ya Emak foto sebentar saja.

Shinjuku

Jalan sore di Shinjuku

Setelah gagal mendapatkan copic marker di Akihabara, Emak mencari info. Nyarilah toko-toko yang banyak menjual alat tulis semacam Takashimaya atau Kinokuniya. Nemu mereka di wilayah Shinjuku. Jadilah hari terakhir sebelum pulang Emak melipir ke area ini. Emak pun naik subway ke stasiun Shinjuku. Trus jalan-jalan aja di sekitar stasiun. Udah banyak toko-toko gede, dan department, seperti shopping district lainnya di Tokyo. Dan Shinjuku memiliki distrik khusus yang dipenuhi gedung pencakar langit. Emak sempat muter-muter Lumine tepat di samping stasiun Shinjuku, sebentar saja. Barangnya mihil-mihil.

Tak lama, Emak pun ke Tokyu Hands di Takashimaya Times Squares. Ia punya beberapa lantai di mall ini. Tokyu Hands merupakan toko kesayangan pehobi dan handy man. Bagi mereka yang suka craft. Emak langsung menuju lantai yang menjual peralatan tulis menulis. Awalnya gak nemu juga. Nanya petugas, copic marker berada di segmen khusus yang menjual peralatan tulis kaligrafi. Dan alhamdulillah harganya setengah dari dari harga di Jerman. Trus dapat kembalian pajak pula. Lumayan. Misi beli oleh-oleh buat anak-anak pun tercapai.

***

Baca juga : Seputaran Kuil Meiji

Baca juga: Halal Traveling Tokyo 

Baca juga: Tokyo for Beginner

 

3 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: