Gajah dari Sang Khalifah: Aliansi Charlemagne – Harun al-Rashid

Aachen town hall Charlemagne
Balai kota Aachen, dibangun di atas bekas istana Charlemagne

Ada sebuah fakta sejarah yang baru saya ketahui setelah membaca buku Lost History, The Enduring Legacy of Muslim Scientist, Thinkers, and Artists karya Michael Hamilton Morgan. Sebuah fakta bahwa pernah ada sebuah aliansi antara Charlemagne  (dalam bahasa Jerman, Karl der Große) dengan seorang penguasa muslim Harun al-Rashid. Penguasa Franks yang bermukim di kota Aachen (sekarang Jerman) dan khalifah Dinasti Abbasid di Baghdad bahkan merencanakan untuk bertemu, meski hal itu tidak pernah terjadi. Setidaknya keduanya pernah saling mengirim utusan serta hadiah. 

Kami tinggal di dekat kota Aachen. Mengetahui bahwa di kota yang sangat kami kenal ini, di akhir abad 8, seorang kaisar seperti Charlemagne sudah ‚berkenalan’ dengan Islam, sungguh mengagetkan. Banyak yang mengenal Aachen sebagai kota tempat mantan seorang presiden kita, Bapak B.J. Habibie menuntut ilmu. Dalam sejarah Jerman, Aachen dikenal sebab pernah menjadi residen salah seorang besar, Bapak Eropa, yang keturunannya kemudian menguasai Perancis dan Jerman, Charlemagne. 

Siapa Charlemagne?

Charlemagne atau Karl der Grosse atau Charles the Great, diperkirakan lahir tahun 747. Tempat kelahirannya tak diketahui pasti. Diperkirakan beliau lahir di salah satu dari banyak residen ayahnya, Pippin, Raja Franks, antara Loire dan Rhine. Beberapa berpendapat, beliau lahir di dekat kota Liege (Belgia). Pippin meninggal dunia tahun 768. Mewariskan kerajaan kepada Charlemagne dan adik lelakinya Carloman. Carloman meninggal mendadak dunia tahun 771, Charlemagne pun memerintah sendirian. 

Charlemagne memperluas daerah kekuasaan Franks semasa hidupnya. Menginvasi Sachsen tahun 772, lalu mengalahkan kerajaan Lombardei di Italia utara. Bagian utara Spanyol masuk dalam kekuasaan Charlemagne tahun 778. Antara tahun 780-800, beliau menambahkan Bohemia dalam wilayah kekuasaan. Di tahun 800, Charlemagne berhasil memadamkan pemberontakan terhadap Paus Leo III di Roma. Sebagai tanda terima kasih, Paus Leo III menobatkan Charlemagne sebagai Kaisar Romawi di hari natal tahun 800. Charlemagne meninggal dunia tahun 814, dan kekaisarannya tidak bertahan lama, sebab keturunannya tidak mewarisi visi dan autoritas yang sama dengan beliau.

Siapa Harun al-Rashid

Harun al-Rashid, lengkapnya Harun al-Rashid ibn Muhammad al-Mahdi ibn al-Mansur, lahir di Reyy, dekat Teheran, tahun 766. Merupakan khalifah kelima Dinasti Abbasid. Di usia 14 tahun, dibantu oleh penasihat Yahya ibn Khalid, Harun al-Rashid sukses dalam sebuah ekspedisi melawan Byzantium. Berkat kesuksesan tersebut, al-Rashid menjadi gubernur yang kekuasaannya meliputi Tunisia, Mesir, Syria, Armenia, dan Azerbaijan. 

Al-Mahdi, ayah al-Rashid meninggal dunia tahun 785. Digantikan oleh kakak lelaki al-Rashid, al-Hadi. Al-Hadi meninggal secara misterius bulan September 786. Sehingga digantikan oleh al-Rashid. Kok ceritanya jadi ada kemiripan dengan Charlemagne, yah? 

Harun al-Rashid mewarisi imperium yang luasnya meliputi bagian barat Mediterania hingga India. Yahya ibn Khalid menjadi administrator pemerintahan. Rezim al-Rashid tak lepas dari masalah internal. Beberapa propinsi melakukan pemberontakan, namun masih bisa dipadamkan pemerintah. Suasana kekalifahan relatif damai semasa pemerintahan Harun al-Rashid. Industri tekstil, metal, kertas mulai berkembang. Membawa kekayaan bagi al-Rashid dan para penguasa negara. Aliran kekayaan ini tampak dalam gaya hidup mewah Dinasti Abbasid. Harun al-Rashid dikatakan sangat menyukai musik dan syair. Dan suka sekali memberikan hadiah berupa emas maupun batu permata kepada para pemain musik dan penyair. 

Tahun 808, ketika hendak memadamkan pemberontakan di Khorasan, Harun al-Rashid jatuh sakit, dan meninggal dunia di Tus (Iran).

Situasi Eropa dan Mediterania Kala Itu

Ada setidaknya tiga kekuatan besar menguasai Eropa dan Mediterania di sekitar tahun 800 masehi. Adalah Byzantium, memerintah dari Konstantinopel, menguasai bagian timur bekas Romawi kuno. Kekaisaran Franks di barat, merajai wilayah Sungai Rhine, sebagian wilayah Galia yang pernah diduduki Julius Caesar, Roma, dan wilayah utara Eropa. Sementara di pantai selatan Mediterania, wilayah Timur Tengah sekarang, Afrika Utara hingga Baghdad dan India, merupakan bagian dari Kekhalifahan Islam Abbasid. 

Irene, kaisar wanita Byzantium kala itu, sadar akan ancaman Dinasti Abbasid. Abbasid telah berkali menyerang Konstantinopel. Memaksa Irene menyetujui pembayaran upeti tahunan ke Baghdad, untuk menghentikan penyerangan. Irene tertarik untuk membentuk aliansi. Dengan Charlemagne. 

Sementara itu, Charlemagne pun menyadari arti penting Abbasid dan Harun al-Rashid, dan berniat menjalin aliansi dengannya. Maka dikirimnya tiga orang utusan di tahun 797 atau 798. Dua orang Franks: Sigismund dan Lantfried. Ditemani seorang saudagar Yahudi, Isaak. Kedua utusan meninggal dalam perjalanan. Hanya Isaak kembali ke Aachen, residen Charlemagne, Juli tahun 802.

Harun al-Rashid Mengirimkan Aneka Hadiah

Isaak tidak kembali ke Aachen dengan tangan hampa. Bersamanya, terdapat berbagai macam hadiah mewah dari Haruan al-Rashid: pahatan gading gajah, tatakan dan gelas emas, parfum, wadah lilin, satu set papan catur, kain-kain mewah, sebuah tenda, sebuah jubah bersulam tulisan „Tiada Tuhan selain Allah“ dalam bahasa Arab, sebuah jam air yang sangat canggih di zamannya, dan seekor binatang yang jarang dilihat orang sejak zaman Hannibal dari Karthago, seekor gajah. 

Tidak jelas, bagaimana Isaak dan sang gajah bernama Abul Abbas sampai ke Aachen. Ada yang berpendapat bahwa mereka melakukan perjalanan dari Baghdad, via Jerussalem, hingga Tunis, sebelum menyeberang ke Eropa, dan melewati Pegunungan Alpen. 

Diceritakan, betapa exciting-nya warga Aachen menyaksikan Abul Abbas melewati jalanan kuno di pusat kota Aachen, dimana istana Charlemagne berdiri. Charlemagne membawanya dalam peperangan. Konon Abul Abbas mati di Lippenheim, Jerman. 

Beberapa dari hadiah Haruan al-Rashid tersebut, kabarnya masih tersimpan di berbagai museum. Di Aachen, Saint Denis di Perancis, dan Durham di Inggris. 

Awww, jadi penasaran pengen ngeliat hadiah-hadiah tersebut!

Dan saya belum menemukan informasi apakah Khalifah Harun al-Rashid mengirimkan utusan muslim kepada Charlemagne saat itu. Akan tetapi, pengiriman utusan kepada khalifah ini kemudian juga dilakukan oleh anak keturunan Charlemagne.

***

Baca juga: Aachen

One Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: