Jalan Kaki Keliling Pusat Tirana

I love tirana signKami sengaja memilih penginapan tak jauh dari pusat kota. Agar gak perlu bawa kendaraan ke pusat kota. Lalu lintas di Tirana agak-agak horor. Pengendaranya suka seenaknya. Pindah-pindah jalur atau belok tanpa menyalakan lampu sen. Dan dua hari di kota ini, kami pulang pergi jalan kaki. Walau jarak dari penginapan ke kota juga gak dekat-dekat amat. Sekitar 20 menit perjalanan kaki. Lumayan olah raga kaki.

Pusat kota Tirana lumayan ramah bagi pejalan kaki. Trotoarnya lebar-lebar dan bersih. Lega. Dan yang jalan kaki gak terlalu banyak. Di sana sini, kita bakal disuguhi street art unik seperti patung atau lukisan di dinding atau public space lainnya. Overall, tidak terlalu banyak turis terlihat di Tirana. Dibandingkan dengan kawasan pantainya. Objek wisata yang kami kunjungi termasuk berdekatan. Kami emang gak terlalu banyak mengunjungi objek wisata di sini. Maunya santai dan gak terlalu memforsir badan. Road trip kami masih panjang.

***

Piramida Tirana

Antara tahun 1944 hingga 1992 Albania berada dalam genggaman komunisme. Di bawah kekuasaan Enver Hoxha. Dibangunlah piramida ini oleh keluarga Hoxha. Sebagai museum untuk mengenang beliau yang memerintah Albania antara tahun 1944 – 1985. Pembangunannya selesai Oktober 1988. Tiga tahun setelah kematian Hoxha. Sebuah gedung megah dan berinterior mewah. Ia tak bertahan lama sebagai museum. Komunisme mulai goyah, dan kemudian ambruk di Albania tahun 1991. Bertahun-tahun lamanya ia tak dimanfaatkan. Dibiarkan tak terurus, bahkan menjadi korban aksi vandalisme. Ketika Emak sempat eksplor beberapa sudutnya, tercium bau pesing.

Albanian Pyramide
Piramida Tirana saat tidak terawat

Bangunan piramida ini berada dalam sebuah kompleks taman yang lumayan luas. Ada air mancurnya. banyak orang sekadar duduk-duduk atau jalan-jalan di dalam taman. Bagi Emak, ia bangunan yang menarik. meski terdapat grafiti dan kaca-kacanya pecah sebagian, ia tetap bisa menjadi objek foto yang instragamable. Sayang banget kalau dibiarkan begitu saja. Di sore hari, anak-anak muda manjat slope piramida. Hingga puncak. Kabarnya, konstruksi terabaikan ini sekarang sudah mulai direnovasi, dan bakal jadi sebuah pusat budaya.

Reja (Inside the Cloud) dan Tirana Sign

Dari piramida, jika kita berjalan ke pusat kota Tirana, menyeberangi Sungai Lana, tepat sebelum jalan masuk ke pusat kota. Di depan Galeri Seni National, Tirana. Awalnyan Emak kira Reja cuma monumen biasa. Eh, pas masuk ternyata lumayan gede. Orang bisa masuk, naik  turun tangganya, atau-duduk-duduk di atas undakan. Beberapa kali lewat sini, gak pernah terlalu ramai. Kadang ada satu dua pasang anak muda pacaran. Pas sore, pengunjungnya keluarga dengan anak-anak.

Instagrammable Tirana

Reja merupakan konstruksi metal, didominasi warna putih. Dari luar bentuknya seperti abstrak. Pas masuk, kita berada dalam ruang tak terlalu luas. Bentuknya berundak. Orang bisa memanjathingga bagian puncak. Tak ada atap di bagian atas. Desainernya Sou Fujimoto dari Jepang. Katanya sih, belum sah ke Tirana bisa belum berfoto di Reja.

Di taman di seberang Reja, kita bisa berfoto-foto di Tirana Sign. Tempat ini sepi ketika kami di sana. Huruf-huruf penyusun kata Tirana setinggi lebih dari semeter menghiasi ujung taman. Dicat grafiti warna putih dan merah. Pas Emak cek di internet, motif dan catnya sudah berganti.

Masjid Et’hem Bey

Menurut Wikipedia, persentase penduduk muslim di Albania sekitar 60 persen. Jika dilihat sekilas, gaya hidup penduduknya lebih kebarat-baratan. Dan buat Emak, jumlah masjidnya kok malah kayak banyakan di Makedonia, yang jumlah persentase muslimnya lebih sedikit. Rasanya di Makedonia, hampir setiap desa ada masjid meski kecil. Di Albania, agak keluar kota, lebih jarang kami melihat masjid.

Alhamdulillah di Tirana, sedang dibangun sebuah masjid raya, Masjid Namazgah. Saat kami di sana, sudah terlihat progres pembangunannya. Yang beberapa kali kami kunjungi adalah sebuah masjid kuno di jantung Tirana, tepat di Skandarberg Square, Masjid Et’hem Bey. Mulai dikonstruksi pada akhir abad 18, atas perintah Mullah Bey. Diselesaikan oleh anaknya, Haxhi Et’hem Bey, di awal abad berikutnya. Walau sempat ditutup ketika komunisme berkuasa, tempat ini salah satu yang masih tersisa di antara banyak sekali bangunan tempat ibadah (masjid, gereja, biara, tekke) yang dihancurkan atau dialihfungsingkan hingga tahun 1967.

Old mosque Tirana
Eksterior Masjid Et’hem Bey

Dari luar, kita sudah bisa mengintip arsitektur unik bangunan ini. Satu menara berbentuk pensil berdiri di salah satu sisi, menempel bangunan utama masjid. Dekorasi lukisan dinding menghiasi fasad depan masjid bagian atas pilar. Ia memiliki satu kubah besar. Masjid ini gak terlalu gede.

Ruang wudunya berada di lantai bawah. Saat masuk, langsung ketemua tangga ke bawah di sebelah kiri. Ruang sembahyang wanita berada di bagian luar ruang sembahyang utama. Tertutup oleh kain. Terdapat abaya dan kerudung bagi mereka yang membutuhkan. Kipas angin terpasang di beberapa tempat. Dari tempat para wanita sholat, kita bisa menikmati lebih banyak lukisan dinding. Bermotif pepohonan, bunga-bunga, jembatan, air terjun. Di bagian dalam, lukisan dinding dan semakin meriah menghiasi hampir seluruh permukaan. Kecuali tembok bagian bawah. Saat waktu sembahyang tiba, ia tertutup bagi pengunjung. Yang sembahyang jamaah tidak terlalu banyak di hari-hari biasa.

Sahat Kula

Tepat di belakang Masjid Et’hem Bey, berdiri sebuah menara jam. Konstruksi satu ini juga peninggalan zaman Turki Usmani. Dengan membayar tarif masuk, lupa berapa, tapi gak mahal, kita bisa manjat menara hingga nyaris puncak. Untuk menikmati sebagian panorama Tirana.

Clock tower Tirana

Sahat kula atau clock tower merupakan konstruksi yang banyak kami temui di Balkan. Seperti di Sarajevo serta Podgorica. Sebagian peninggalan dari zaman Turki Usmani. Di Zadar, kami naik menara jam milik sebuah gereja. Ada yang bisa dimasuki ada yang cuma bisa dipandang dari luar. Menara jam Tirana termasuk yang bisa dinaiki. Menara jam satu ini gak terlalu besar. Masuk ke dalam, terasa agak sempit. Ada jendela kecil-kecil, sehingga di dalamnya gak terlalu gelap. Semakin ke atas, makin sempit, dan tangga semakin terjal. Kalau papasan dengan orang yang mau turun, salah satu kudu ngalah, agak mepet ke tepian.

Panorama dari atas sana, lumayan lah. Gedung pencakar langit Tirana belum terlalu banyak. Akan tetapi, di kejauhan kita bisa melihat pegunungan di pinggir Tirana.

Bunk’Art 2

Ketakutan akan invasi selama perang dingin, pemimpin Albania saat itu, Enver Hohxa, memerintahkan pembangunan ribuan bunker sejak tahun 1970-an. Konon, jumlah keseluruhan bunker yang pernah dibangun adalah 170 ribu bunker. Biuhhhh. Setelah rezimnya kolaps, masih banyak sekali bunker tersisa hingga kini. Di pusat kota Tirana, kita bisa menyaksikan beberapa di antara sisa bunker. Ketika melakukan perjalanan ke kota lainnya, kami pun melihat beberapa puncak bunker, menyerupai jamur raksasa.

Bunk'Art 2 entrance Tirana
Pintu masuk Bunk’Art 2

Ukuran bunker bermacam-macam. Emak pernah nyoba masuk bunker kecil di Postbllok Checkpoint. Sebuah bunker untuk satu orang bersenjata. Sebuah konstruksi beton dalam tanah sempit. Di dalamnya kotor dan pesing. Bunker besar dijadikan monumen atau museum sejarah. Terdapat dua Bunk’Art di Tirana. Bunk’Art 1 berada agak pinggiran kota. Satunya tepat di jantung kota. Di seberang Masjid Et’hem Bey. Kami pilih mendatangi yang kedua saja. Lebih mudah dan dekat.

Bunker yang digunakan sebagai museum dulunya merupakan bunker anto nuklir. Untuk menampung para elit Albania jika terjadi serangan nuklir. Bunk’Art 2 ini dibangun antara tahun 1981 – 1986. Sebagian temboknya sangat tebal, hingga 2,5 m, memiliki luas sekitar seribu meter persegi. Di dalamnya terdapat 20 ruangan.

Bunk’Art 2 memamerkan ribuan foto dan memorabilia sisa-sisa persekusi pemerintah Albania terhadap 100 ribuan warga Albania antara tahun 1945 – 1991. Sebagian agak-agak disturbing dan gak cocok buat anak kecil. Sedih banget kalau melihat kekejaman seperti itu. Akan tetapi, banyak juga pengetahuan baru kami dapatkan dari sana.

Museum bawha tanah ini dilengkapi hot spot. Meski sinyalnya kadang gak kenceng. Hampir sebagian besar dari 20an ruangannya berpencahayaan terbatas. Sehingga menambah kesan horor.

***

Baca juga: Traveling ke Albania

Baca juga: Things to do in Shkoder 

One Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: