Sehari di Kosovo

Makedonia Utara berbatasan langsung dengan Kosovo. Dari ibukota Skopje ke perbatasan, hanya sekitar 20 kilometer jaraknya. Warga negara Indonesia pemegang visa Schengen bisa mengunjungi Kosovo maksimal 15 hari tanpa perlu bikin visa khusus Kosovo lagi.

Prishtina, ibukota Kosovo adalah tujuan utama kami. Sekitar 2 jam berkendara dari Skopje. Itu belum dihitung urusan imgrasi di perbatasan Elez Han. Kami belum tahu, bakal menghabiskan waktu berapa lama di sini. Kalau suka, nginep. Gak suka, lanjut ke Bosnia-Herzegovina, lewat Montenegro.

Perjalanan kami, alhamdulillah lancar jaya. Termasuk di perbatasan. Cuma kudu beli asuransi mobil lagi. Sebab asuransi mobil kami yang berlaku di negara Uni Eropa dan beberapa negara lain, tidak berlaku di Kosovo. Kalau tidak salah, harga asuransinya sekitar 15-20 euro. Dibeli di sebuah agen asuransi di dekat kantor imigrasi. Prosesnya pun cepat sahaja.

Sekilas tentang Kosovo

Kosovo adalah sebuah negara terbaru Eropa. Ia adalah negara ke delapan atau yang terakhir dari bekas Yugoslavia yang memerdekaan diri pada tahun 2008. Sebelum merdeka, sejak 28 Februari 1998, Kosovo dilanda perang. Antara warga Kosovo dari etnis Albania dan Serbia.

Bapak pembebasan Kosovo adalah seorang tokoh sastra sekaligus filsuf, Ibrahim Rugova. Beliau membentuk Liga Demokrasi Kosovo setelah Serbia mencabut otonomi Kosovo tahun 1989. Tujuan utama liga tersebut, adalah memisahkan diri dari Yugoslavia. Akan tetapi, Rugova ingin semua itu berjalan dengan damai.

Sementara di desa-desa dan kota-kota Bosnia dan Kroasia terbakar, dan terjadi perlawanan bersenjata, Rugova meminta rakyat Kosovo melawan tanpa kekerasan, dengan memboikot pemerintahan Serbia. Rugova disebut sebagai Gandhi dari Balkan.

Tahun 1990an, Liga Demokrasi Kosovo membentuk sistem pemerintahan bayangan. Warga etnis Albania menyelenggarakan sekolah di dalam barak, garasi, atau ruang bawah tanah. Tempat tinggal penduduk dijadikan rumah sakit sementara. Mereka juga melkukan pemilu sendiri, yang selalu dimenangkan oleh Rugova.

Pemerintah resmi Serbia masih menguasai Kosovo. Mereka memiliki pasukan dan polisi di mana-mana. Menangkapi dan menginterogasi warga Kosovo etnis Albania sesuka hati. Menyebabkan generasi muda mereka mulai “kehilangan kesabaran” terhadap taktik yang dilancarkan oleh Ibrahim Rugova.

Tahun 1995, perang mulai berakhir di Bosnia dan Kroasia. Nasib Kosovo belum jelas. Negara-negara barat masih berkonsentrasi terhadap perdamaian Balkan, dan tidak menginginkan perubahan batas-batas negara lagi. Akan tetapi, generasi muda Albania di Kosovo semakin tidak sabar akan situasi tersebut. Bagi mereka, perlawanan tanpa kekerasan hanya akan menjadi bahan cemoohan Serbia. Ibrahim Rugova bertahan. Beliau memilih jalan diplomasi.

Berlawanan dengan keinginan Rugova, di tahun 1997, mahasiswa Albania turun ke jalan, melakukan demokrasi besar-besaran di kota Prishtina. Tak lama kemudian, mulai nyaring berita terbentuknya tentara pembebasan Kosovo (UCK). Makin lama, aksi mereka makin nyata. Mereka mulai menyerang petugas keamanan Serbia di Kosovo. Membuat para petugas itu mulai nervous dan ketakutan.

Perang resmi bermula 28 Februari 1998. Patroli polisi Serbia diserang di Desa Likoshan. Polisi Serbia membalas dengan membunuh 24 warga Likoshan dan sekitarnya. Ribuan warga Albania datang pada waktu pemakaman, menyatakan aksi solidaritas. Sejak saat itu, serangan UCK semakin banyak, dan polisi keamanan Serbia pun semakin brutal. Datanglah tentara Nato, memaksa tentara Serbia mundur. Konflik Kosovo menyebabkan belasan ribu orang menjadi korban jiwa. Baikdari pihak Kosovo maupun Serbia.

Kosovo menyatakan diri merdeka 17 Februari 2008. Sayang, Ibrahim Rugova tidak sempat menyaksikan hal ini. Beliau meninggal dua tahun sebelumnya di Prishtina.

Amankah Traveling ke Kosovo

Luas Kosovo sedikit lebih luas dibanding provinsi Banten. Akan tetapi jumlah penduduknya tidak sampai seperenam Banten. Sepi di mana-mana, kecuali di kota-kota agak gede. Kota terbesar sekaligus ibukota adalah Prishtina.

Bulevar di Prishtina

Jalanan dari perbatasan Elez Han hingga Prishtina terbilang bagus dan mulus. Tidak terlalu susah juga ketemu pom bensin. kami lewat hutan, desa-desa, padang-padang luas. Di musim panas, jalanan lumayan berdebu. Mobil-mobil tua berseliweran, namun tak jarang pula kami berpapasan dengan kendaraan baru dan relatif murah.

Konon, petugas keamanan internasional masih ditugaskan di Kosovo. Untuk menjaga kestabilan negeri ini. Sudah lebih dari 100 negara mengakui kemerdekaan Kosovo. Namun ia belum menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kosovo berbatasan darat dengan Serbia, Montenegro, Albania, dan Makedonia Utara. Ia tidak berbatasan langsung dengan lautan. Euro adalah mata uang yang berlaku di sini, walau ia bukan anggota resmi Uni Eropa.

Selama kira-kira seharian di Kosovo, kami merasa aman saja. Tak pernah mengalami kejadian tak menyenangkan. Kecuali lalu lintas semrawut di Prishtina. Mirip dengan Tirana, Albania. Orang-orangnya ramah. Jika mau bertanya jalan, coba tanya ke anak muda usia kuliah. Biasanya ngerti bahasa Inggris. Kalau usia setengah tua, coba pakai bahasa Jerman. Sebagian mereka pernah tinggal di negara-negara berbahasa Jerman, seperti Austria, Jerman, dan Swiss.

Prishtina

Entah, apa yang sebelumnya Emak harapkan akan kami temui di Kosovo. Yang jelas, negeri ini mengejutkan. Prishtina seperti kota moderen Eropa Barat lainnya. Gedung tingginya relatif banyak. Mungkin baru dibangun usai perang. Ibukotanya isinya gedung apartemen, dan tempat belanja moderen. Menurut informasi, sekitar 90 persen penduduknya muslim. Akan tetapi, Emak jauh lebih sering menemui perempuan berkerudung di Jerman, dibanding di Kosovo.

Kami kesulitan menemukan tempat parkir yang dekat dengan pusat kota Kosovo. Gak punya wifi. Gak bisa nyari lokasi parkir. Kami lihat banyak mobil di lapangan belakang gedung perpustakaan nasional Kosovo. Nanya-nanya ke orang lewat, katanya parkir di situ gratis. Ya sutra, kami berjalan ke arah kota. Gak terlalu jauh ternyata. Paling sekitar 20 menit.

Ramai juga Prishtina hari itu. Padahal bukan hari Minggu, melainkan hari Senin. Banyak orang berjalan-jalan di pusat kota. Jalanan pun gak kalah ramai. Meski gak sampai macet. Panas juga kotanya di musim panas. Entah kenapa, Emak tidak terlalu berminat menjelajah Prishtina. Agak kecewa melihat kota ini.

Gedung Perpustakaan Nasional Kosovo

Mungkin dalam hati terdalam, Emak berharap Kosovo bakal mirip Sarajevo suasananya. Apalagi setelah melihat sisi oriental Skopje. Paling enggak, dalam bayangan Emak, Prishtina bakal lebih oriental dari itu. I was wrong. Beberapa destinasi yang sudah Emak catat sebelumnya, tak terlalu Emak hiraukan. Kami bahkan tidak terlalu minat berfoto ria. Sehingga tak banyak kenangan kami simpan di Kosovo.

Dari Newborn monument, merupakan karya patung bertuliskan Newborn. Diresmikan ketika Kosovo resmi melepaskan diri dari Serbia. Mencerminkan kelahiran sebuah negara baru. Tinggi huruf-huruf beton tersebut kira-kira dua meter. Dua hurufnya, N dan W sedang ditumbangkan, sehingga terbaca E BORN.

Kelaparan, kami makan di sebuah rumah makan di pusat kota. Sepertinya ramai. Harga makanan di sini terbilang murah dibanding Jerman. Tapi masih relatif mahal dibandingkan di Albania dan Skopje. Rasa makanan di Balkan mirip-mirip. Bahan utamanya daging. Kami selalu pesan salad segar sebagai makanan pendamping yang segar.

Di tempat makan tersebut kami ketemu sepasang bapak ibu setengah tua. Sang Bapak menyapa setelah mendengar anak-anak berbicara dalam bahasa Jerman. Beliau warga asli Kosovo yang kemudian bermukim di dekat kota Frankfurt, Jerman. Mereka sedang mudik musim panas. Kegiatan rutin tahunan, katanya.

Setelah makan, kami sempat jalan-jalan ke arah bulevar khusus pejalan kaki. Emak lupa, apa nama jalannya. Jalanannya lebar. Sekitar 20 meteran ada kali. Kanan kirinya tumbuh pepohonan, lumayan rindang. Di tepian, berjualan pedagang kaki lima. Jualan makanan, mainan, buku-buku bekas dan baru. Ada juga pengemis, tapi gak banyak. Si Bapak membelikan kami semua es krim seharga setengah euro sebiji. Sambil sedikit bercerita tentang Bapak Kosovo, Ibrahim Rugova. Sayang Emak gak terlalu ingat tentang cerita beliau tersebut.

Kami berpisah tak lama kemudian. Mereka akan balik kampung, di kota lain beberapa kilometer dari Prishtina. Kami melanjutkan jalan-jalan sebentar. Mau ke sebuah masjid, sayangnya sedang direnovasi, gak bisa masuk. Mau ke masjid lain, kok jauh.

Karena parkir dekat gedung perpustakaan nasional, sekalian kami foto-foto di belakangnya. Ia disebut sebagai salah satu gedung terjelek di sana. Menurut Emak, itu gedung baik-baik saja. Fasad tertutup teralis, mirip penjara. Atapnya terbuat dari banyak kubah kecil berornamen segitiga.

That’s all Prishtina. Kami telah menemukan keramahtamahan warganya. Mungkin kami kudu kembali lagi ke Kosovo lain waktu. Mungkin kami bisa menemukan sesuatu yang lain yang tak kalah menariknya.

***

Kami melanjutkan perjalanan ke arah barat. melewati kota Peja, menyeberangi pegunungan perbatasan Kosovo – Montenegro. Masuk Montenegro ke kota Rozaje, sebuah kota yang lumayan punya banyak muslim. Sebelum lanjut ke utara ke arah Bosnia-Herzegovina.

***

Baca juga: Warna-Warni Masjid Tetovo

2 Comments

  • Fahrio

    Selamat pagi kak. Saya ingin tanya tapi lain dari topik. Kalau kita ingin ke belarus,kan mereka minta persyaratan asuransi kesehatan minimal 10 ribu euro. Apa itu artinya kita harus beli asuransi kesehatan sebesar 10 ribu euro?terimakasih

Leave a Reply

%d bloggers like this: