Traveling ke Albania

Kota wisata ALbaniaSalah satu keasyikan roadtrip di Eropa adalah dalam sekali dayung, kita bisa mengunjungi beberapa negara sekaligus. Sebab negaranya dempet-dempetan. Satu negara gak terlalu luas. Masih memungkinan dijelajahi dengan mobil. Musim panas tahun 2017, kami alhamdulillah kembali berkesempatan menjelajah Semenanjung Balkan. Mengunjungi beberapa negara sekaligus sekali jalan. Tujuan kami adalah negara-negara yang belum pernah kami sebelumnya: Albania, Makedonia, dan Kosovo. Dari rumah hingga kembali lagi, perjalanan berlangsung selama kurang lebih tiga minggu.

Karena sedang musim panas, musim liburan sekolah anak dan musim liburan banyak orang, kondisi jalanan Eropa seperti saat mudik lebaran di tanah air. Ramai di mana-mana. Untungnya kami tidak pernah didera kemacetan parah. Palaing agak lama tertahan di perbatasan, sebab paspor hijau ini sangatlah spesial. Sekali diperiksa, butuh waktu lama. Tak jarang dibarengi dengan pengisian beberapa formulir. Tapi yah, alhamdulillah banget masih bisa jalan-jalan ke negara baru dan eksotis di Eropa Timur. Yang beda negara, jarak beberapa kilometer saja, sudah berubah pula perilaku manusianya. Sungguh unik dan sangat menarik.

Kudu membagi waktu perjalanan, Albania, hanya kebagian sekitar 5 hari. Kami kunjungi 4 kota: Shkoder, Tirana, Dürres, Berat. Sebenarnya sudah sejak lama kami ingin bertandang kemari. Sejak Emak mengetahui bahwa pemegang visa Schengen bisa melenggang masuk Albania tanpa visa. Akan tetapi, agak sulit menemukan tiket berharga miring ke negara ini. Kecuali, terbang ke Italia dulu, setelahnya, disambung naik pesawat Italia – Tirana, pp. Agak mbulet menyesuaikan dengan jam terbang pula. Belum lagi kudu nyiapin waktu transit. Sebab tiketnya beli terpisah, naik maskapai berbeda. Yang artinya kami kudu keluar, lalu check in lagi ke pesawat berikutnya. Ya sudahlah. Ketika gagal mudik sebab gak dapet tiket murah, kami putuskan road ke Balkan lagi.

Dari Jerman, kami mengukur jalan. Melalui Austria, Slovenia, Kroasia, Montenegro, berhari-hari, sambil kemping atau nginep di apartemen, kami masuk ke utara Albania. Kami sempat mampir ke Ulcinj, kota besar terakhir di Montenegro yang banyak dihuni penduduk muslim. Banyak resto bertuliskan hallah dan kami melihat beberapa masjid. Pusat kota sangat ramai dan agak kacau lalu lintasnya. Nyari parkir susah. Kami tak memutuskan parkir. Melainkan mencari daerah bernama Ulcinj Salina. Sebuah wilayah rawa berair payau yang katanya didatangi banyak burung Flamingo setiap tahunnya. Sampai di sana, gak ada Flamingo. Mereka datangnya menjelang musim dingin sekitar bulan November. Olala, gak rezeki. Yo wes kita menyeberang langsung ke Albania sahaja.

Shkoder mosque
Islamic Center Shkoder, Albania

Di musim panas, jalan menuju perbatasan lumayan ramai. Emak ingat banyak mobil bernopol Swiss melenggang di jalanan. Mobilnya keren-keren dan mereka biasanya suka nyalip. Sepertinya warga Albania tinggal di Swiss yang sedang mudik. Bawaan di mobilnya terlihat penuh. Asyik banget yang kalau mudik antar negara pakai mobil. Bisa bawa oleh-oleh semobil. hehehe.

Menyusuri jalan berkelok-kelok dan naik turun, sampailah kami di perbatasan antara Montenegro dan Albania. Antrian sudah lumayan panjang. Entah berapa belas mobil di depan. Pemegang paspor hijau seperti kami sudah biasa mengantri agak lama. Bahkan lebih sejam di perbatasan negara-negara Balkan dan Eropa Timur. Kadang mobil kami disuruh minggir dulu. Lalu di-screening khusus. Spesial lah kami-kami ini.

Biasanya perbatasan punya dua kantor. Pertama kantor perbatasan negara yang mau ditinggalkan, Jarak berapa puluh atau rataus, atau bahkan beberapa kilometer kemudian, bakal berdiri kantor perbatasan negara yang mau dimasuki. Dalam kasus kami sekarang, kami pikir, kami bakal ngecap paspor keluar Montenegro, lalu ngecap masuk paspor Albania. Lha di perbatasan satu ini beda. Kantornya cuma satu. Urusannya cepet pula. Sampai kami bengong. Beneran ini udah beres. Kami pikir masih bakal ketemu kantor perbatasan Albania. Tapi mobil kami melewati jalanan dan suasana desa berbeda. Dan gak ketemu kantor perbatasan lagi. Fix kami sudah masuk Albania.

***

Sekilas Tentang Albania

Negeri ini berada di tepian Lautan Adriatik. Berbatasan daratan dengan Montenegro, Kosovo, Makedonia, dan Yunani. Dengan Italia, ia berbatasan laut. Beribukota di Tirana. Mereka memiliki bahasa yang berbeda dengan wilayah Slavia sekitarnya. Orang Albania, konon berasal dari Bangsa Illyria yang pernah hidup di Eropa Tengah, dan bermigrasi di wilayah ini. Albania, sempat berada dalam kekuasaan Turki Usmani dan Austria-Hungaria, mengumumkan kemerdekaannya pada tahun 1912. Negara ini pernah berhaluan komunis, saat lebih dari 40 tahun dipimpin oleh Enver Hoxha. Komunisme goyah setelah kematian Hoxha. Saat ini, Albania merupakan sebuah negara demokrasi.

Mereka menyebut negerinya Shqipëria. Dan warganya disebut shqiptarë (dalam Britannica, berarti anak-anak Elang). Emak tahunya Shqipëria ketika membaca peta. Nama asli Albania terpampang di sana. Emak suka sekali nama itu. Selalu mengingatkan akan Skypiea, nama sebuah pulau di atas awan dalam cerita One Piece. Salah satu warga kehormatan asal Albania yang paling terkenal adalah Bunda Teresa. Walau beliau lahir di Skopje (sekarang di Makedonia), beliau merupakan keturunan etnik Albania. Nama beliau diabadikan sebagai nama bandara internasional Tirana.

Ibukota Albania
Suasana pusat kota Tirana

Berkendara di Albania dengan mobil, beberapa hal memngingatkan Emak akan tanah air. Walau ia termasuk salah satu negara termiskin Eropa, Emak perhatikan sekilas, rumahnya gedong-gedong, dan terlihat baru. Mungkin ekonomi mereka sudah sangat membaik, sehingga standar miskinnya pun naik. Mobil-mobil yang berkeliaran, terutama di jalanan Tirana, banyak mobil mewah. Ini mungkin karena Emak cuma beberapa hari di sana. Cuma melihat permukaan saja.

Sebagai destinasi wisata, Albania menyenangkan, dan unik. Warga negara Indonesia pemegang visa Schengen atau resident permit dari USA/UK, bisa melenggang masuk Albania tanpa membuat visa lagi. Kami mengunjungi masjid-masjid tua peninggalan zaman Turki Usmani, serta beberapa destinasi yang masuk dalam daftar Unesco Heritage. Negeri ini rasanya masih ada bau-bau oriental-nya. Termasuk perilaku manusia-manusianya. Di jalan, kami sering bertemu dengan rombongan orang menikah. Meriah sekali. Iring-iringan panjang saling bersautan klakson. Mobil mempelai berada paling depan, dan punya hiasan bunga dan pita. Pernah pula kami melihat ada rombongan menyetel musik keras, sembari menari di tempat terbuka. Oh ya, iring-iringan pengantin ini gak cuma di Albania, ding. Di Makedonia dan Kosovo juga demikian.

Karena kami gak menggunakan moda transportasi umum, kami tidak punya tips untuk getting around di sana. Kami biasanya nyari parkiran di pinggiran kota. Ada yang gratis, ada yang bayar. Di Tirana, mobil kami deket penginapan, dan kami pilih bolak-balik jalan kaki ke pusat kota. Kira-kira jaraknya setengah jam perjalanan kaki, sekali jalan. Lumayan, sambil olah raga. Soal jalan raya, sudah bagus. Hingga daerah-daerah terpencil. Orang-orangnya ramah, walau tak sedikit yang bisa berbahasa Inggris.

Di musim panas, destinasi wisata utamanya adalah pantai. Ramai banget. Kami mampir sebentar di Dürres,  Emak gak ikut mandi di laut. Kalau di kota-kota biasa saja, gak terlalu ramai. Warga Albania, konon banyak muslimnya. Masjid lumayan banyak, tapi perasaan kok banyakan di Makedonia. Dan penampilan orang-orangnya juga serupa dengan penampilan warga-warga Eropa Barat. Yang perempuan banyak berbaju terbuka di musim panas.

Kami tak pernah kesulitan untuk makan selama di Albania. Peralatan makan selalu siap sedia sendiri. Pas nginep di apartemen, masak sendiri. Paling beli lauk atau roti di supermarket. Kalau pilih makan di luar, kami seringnya makan salad sayuran atau pizza. Yang aman-aman saja. Apa-apa termasuk murah, dibandingkan di Eropa Barat.

Pengalaman keluarga pelancong lebih lengkap di Shqipëria, inshaa Allah bakal Emak bagikan di artikel-artikel kami selanjutnya. Ini intro dulu, yes!

***

Baca juga: Stara Maslina, Pohon Zaitun Ribuan Tahun di Montenegro

Baca juga: Things to do in Shkoder

17 Comments

  • Kuci

    Di NKRI juga sama kok. Beda beberapa puluh KM sudah beda suku, beda adat budaya, beda alamnya, beda makanan dan bahasa, dll. Keren kan.!!

  • Nathalie Depari

    Hallo mbak,

    mau tanya apakah kemaren waktu di perbatasan gak ketat pengecekannya? Temanku ada resident Austria juga kemaren sempet ditolak masuk Albania, dia naik bis.

  • Ceria

    Kak, misalkan sy pakai visa schengen yunani dan setelah itu saya mengunjungji Kosovoz apakah pulangnya juga harus dari Yunani atau bisa melalui Kosovo?

    Makasih sebelumnya kak.

  • ira

    Ceria: Bisa dari mana saja di wilayah Schengen atau di mana visa Schengen berlaku. Jadi bisa dari Yunani mau pun Kosovo.

  • Kak. Bagi saya yg baru mau pergi luar negeri dan rencananya mau ke albania.. apa2 aj yg harus dipersiapkan trus transitnya dimna dan kalau kita mau menetap lama disana apa aj yg harus disiapkan kk..makasi kk..mohon infonya karena ini pertama kalinya bagi saya .
    Rutenya mohon detail yak..thanks

  • Straw

    Kak btw gimana ya dapet visa Albania saja, koq kedutaan Albania ga ada di Indo 🙁 aku jadi mikir gimana urusannya kalo mau nikah ma orang sana

  • shasyi

    kak mau tanya, kendala yg paling berat pas mau ke albania apa? minta pandangannya kalau nikah sm org albania, karna kan kakak seengaknya udh tau kehidupan disana walaupun cuma beberapa hari hehe

  • ira

    Kalau orangnya sih mirip sama Eropa, Mbak. Cuma sepertinya ikatan kekeluargaan mereka lebih kuat. Kalau selama kami di sana seh, alhamdulillah ketemu sama yang baik2.

  • Nazwa Shada

    Kak mau tanya.
    Sahabat saya warga negara Kosovo punya rencana untuk mengunjungi Indonesia. Dia meminta bantuan Saya untuk membuat visa ke Indonesia. Tapi sahabat saya itu harus lebih dahulu mendatangi kedutaan Indonesia di sana kan kak?

  • Denada

    Hi Keluarga Pelancong, terima kasih ya untuk sharing-sharing pengalaman liburannya.

    Saya ada sedikit pertanyaan, mudah-mudahan relevan ya untuk ditanyakan di sini.

    Kebetulan saya belum pernah ke luar negeri dan berencana untuk berangkat tahun depan saat travel ban sudah reda.

    Untuk pengalaman pertama ini, saya ingin langsung berpergian ke tempat yang jauh (Amerika atau Eropa). Tapi beberapa kerabat dan teman mengingatkan “Paspormu kan masih kosong, bakal susah tuh dapat visa” atau “Mendingan kamu liburan ke Singapore dan Thailand dulu, baru ke Eropa agar visanya tembus”.

    Bahkan ke negara Eropa yang free visa pun masih diingatkan “Hati-hati kamu ditolak masuk karena ga ada pengalaman liburan, kan sayang tiketnya”

    Nah, apa benar yah paspor kosong dan belum pernah ke luar negeri itu bisa menjadi hambatan?

    Mungkin Keluarga Pelancong bisa memberikan masukan. Terima kasih ya:)

Leave a Reply

%d bloggers like this: